<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:series="https://publishpress.com/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Komentar di: Bekam dan Humorism	</title>
	<atom:link href="https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/</link>
	<description>Iman, Realitas dan Pertanyaan Tentangnya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Mar 2026 15:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>
	<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-642</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2013 00:10:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-642</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-641&quot;&gt;aninditya&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Aninditya:&lt;/b&gt; saya setuju kalau faktor keyakinan menyumbangkan andil besar dalam proses penyembuhan, walaupun prosentasenya tidak bisa kita patok pada angka tertentu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-641">aninditya</a>.</p>
<p><b>@Aninditya:</b> saya setuju kalau faktor keyakinan menyumbangkan andil besar dalam proses penyembuhan, walaupun prosentasenya tidak bisa kita patok pada angka tertentu.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: aninditya		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-641</link>

		<dc:creator><![CDATA[aninditya]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2013 12:01:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-641</guid>

					<description><![CDATA[Saya beranggapan 75% adalah keyakinan kita yg akan menyembuhkannya 25%nya dibantu obat , karena dengan keyakinan tadi tanpa disadari otak merangsang tubuh kita memproduksi lebih zat zat kimia atau merangsang anti bodykita tanpa kita sadari untuk menyeimbangkan tubuh kita. Seperti yg diutarakan mas judhi tepung dimasukkan di dalam kapsul bisa menyembuhkan. Kebanyakan dokter/dukun atau lainnya hanya sebagai jembatan meyakinkan pasien bahwa dirinya akan sembuh. Keluar dari konteks diskusi tidak ya mas he..he..jadi bekam tadi tidak menyembuhkan, bekam hanya salah satu media menjambati keyakinannya pasien, bahwa dirinya akan sebuh bila melakukan tindakan semacam itu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya beranggapan 75% adalah keyakinan kita yg akan menyembuhkannya 25%nya dibantu obat , karena dengan keyakinan tadi tanpa disadari otak merangsang tubuh kita memproduksi lebih zat zat kimia atau merangsang anti bodykita tanpa kita sadari untuk menyeimbangkan tubuh kita. Seperti yg diutarakan mas judhi tepung dimasukkan di dalam kapsul bisa menyembuhkan. Kebanyakan dokter/dukun atau lainnya hanya sebagai jembatan meyakinkan pasien bahwa dirinya akan sembuh. Keluar dari konteks diskusi tidak ya mas he..he..jadi bekam tadi tidak menyembuhkan, bekam hanya salah satu media menjambati keyakinannya pasien, bahwa dirinya akan sebuh bila melakukan tindakan semacam itu.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-640</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 08:41:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-640</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-639&quot;&gt;Sulaeman Suparman&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Sulaeman Suparman: &lt;/b&gt;problemnya banyak yang percaya sains dan fakta sejarah hanya bila hal itu mendukung keyakinan mereka.

Bila sains dan fakta sejarah berseberangan dengan keyakinan, maka dengan mudahnya mereka memberikan label &quot;konspirasi kaum kafir untuk melemahkan Islam&quot;, &quot;antek zionis&quot; atau &quot;pembengkokan sejarah oleh musuh Islam&quot; dan sebagainya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-639">Sulaeman Suparman</a>.</p>
<p><b>@Sulaeman Suparman: </b>problemnya banyak yang percaya sains dan fakta sejarah hanya bila hal itu mendukung keyakinan mereka.</p>
<p>Bila sains dan fakta sejarah berseberangan dengan keyakinan, maka dengan mudahnya mereka memberikan label &#8220;konspirasi kaum kafir untuk melemahkan Islam&#8221;, &#8220;antek zionis&#8221; atau &#8220;pembengkokan sejarah oleh musuh Islam&#8221; dan sebagainya.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Sulaeman Suparman		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-639</link>

		<dc:creator><![CDATA[Sulaeman Suparman]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 06:13:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-639</guid>

					<description><![CDATA[Pindailah kesahihan keduanya dengan statisktik. Kedokteran moderen memang jauh kalah tua. Namun, kita bisa catat betapa kedokteran yang dulunya hanya satu cabang disiplin ilmu telah melahirkan puluhan cabang spesialis kedokteran dan akan berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan cabang spesialis lainnya. Bandingkan dengan teknik bekam. Afalaa ta&#039;qiluun...afalaa yatafaqqaruun ..begitu sindir Qur&#039;an berulang-ulang. Karena kalah kuat dengan Qur&#039;an, maka &quot;Sunnah bekam&quot; harus batal demi hukum. Begitu...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pindailah kesahihan keduanya dengan statisktik. Kedokteran moderen memang jauh kalah tua. Namun, kita bisa catat betapa kedokteran yang dulunya hanya satu cabang disiplin ilmu telah melahirkan puluhan cabang spesialis kedokteran dan akan berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan cabang spesialis lainnya. Bandingkan dengan teknik bekam. Afalaa ta&#8217;qiluun&#8230;afalaa yatafaqqaruun ..begitu sindir Qur&#8217;an berulang-ulang. Karena kalah kuat dengan Qur&#8217;an, maka &#8220;Sunnah bekam&#8221; harus batal demi hukum. Begitu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Sulaeman Suparman		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-638</link>

		<dc:creator><![CDATA[Sulaeman Suparman]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 06:02:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-638</guid>

					<description><![CDATA[Mengapa tidak menggunakan data statistik untuk memindai kesasihan keduanya? Kedokteran moderen jelas jauh kalah tua dibanding bekam. Tapi kita mencatat bahwa dari awalnya yang hanya satu cabang kedokteran telah lahir puluhan cabang spesialis dan akan terus berkembang ratusan atau ribuan cabang spesialis lainnya. Bagaimana dengan teknik bekam? Afalaa ta&#039;qiluun ... afalaa yatafaqaruun....jika Qur&#039;an mengulang-ulang sindiran itu ... mestinya kita tinggalkan &quot;Sunnah&quot; bekam demi hukum, karena Qur&#039;an lebih kuat. Subhanallah!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa tidak menggunakan data statistik untuk memindai kesasihan keduanya? Kedokteran moderen jelas jauh kalah tua dibanding bekam. Tapi kita mencatat bahwa dari awalnya yang hanya satu cabang kedokteran telah lahir puluhan cabang spesialis dan akan terus berkembang ratusan atau ribuan cabang spesialis lainnya. Bagaimana dengan teknik bekam? Afalaa ta&#8217;qiluun &#8230; afalaa yatafaqaruun&#8230;.jika Qur&#8217;an mengulang-ulang sindiran itu &#8230; mestinya kita tinggalkan &#8220;Sunnah&#8221; bekam demi hukum, karena Qur&#8217;an lebih kuat. Subhanallah!</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-637</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 03:12:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-637</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-636&quot;&gt;edy&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Edy: &lt;/b&gt;yang saya ungkap adalah bekam tidak memiliki landasan medis/ilmiah yang kuat.&lt;br /&gt;
Mengenai apakah bekam bisa menyembuhkan? Memang ada faktor lain yang mendukung.&lt;br /&gt;
Dalam kedokteran modern disebut efek placebo - efek keyakinan. Ada pasien  yang diberi kapsul yang berisi tepung tanpa khasiat apa-apa, tetapi dikatakan oleh dokternya bahwa itu merupakan obat yg sangat manjur untuk sakit beratnya - dan sim salabim sang pasien bisa sembuh setelah minum obat itu teratur, 
Keyakinan pada dokter dan obat manjur yg diberikannya membuat pasien itu sembuh. Ia menyembuhkan dirinya sendiri dgn keyakinan. 
Saya rasa itu yg terjadi dgn para pasien bekam atau batu ponari. 
Placebo bisa berlaku untuk sekelompok orang, tapi tidak untuk semua. 
Terima kasih komentarnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-636">edy</a>.</p>
<p><b>@Edy: </b>yang saya ungkap adalah bekam tidak memiliki landasan medis/ilmiah yang kuat.<br />
Mengenai apakah bekam bisa menyembuhkan? Memang ada faktor lain yang mendukung.<br />
Dalam kedokteran modern disebut efek placebo &#8211; efek keyakinan. Ada pasien  yang diberi kapsul yang berisi tepung tanpa khasiat apa-apa, tetapi dikatakan oleh dokternya bahwa itu merupakan obat yg sangat manjur untuk sakit beratnya &#8211; dan sim salabim sang pasien bisa sembuh setelah minum obat itu teratur,<br />
Keyakinan pada dokter dan obat manjur yg diberikannya membuat pasien itu sembuh. Ia menyembuhkan dirinya sendiri dgn keyakinan.<br />
Saya rasa itu yg terjadi dgn para pasien bekam atau batu ponari.<br />
Placebo bisa berlaku untuk sekelompok orang, tapi tidak untuk semua.<br />
Terima kasih komentarnya.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: edy		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-636</link>

		<dc:creator><![CDATA[edy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 02:25:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-636</guid>

					<description><![CDATA[Bagi sebagian orang ,apalagi yg sedang sakit,apa yg diupayakan untuk kesembuhannya kadang melewati batas rasiona.Tak peduli itu pengobatan modern yg telah melewati uji klinis dan di uji coba ratusan kali,atau cuma sekedar batu kali ponari,muaranya adalah kesembuhan. Untuk pribadi yang yakin,obat atau pengobatan cuma sekedar sarana,ada hal2 gaib yang kadang turut andil dlm proses kesembuhannya yg kadang tidak bisa dijelaskan dengan rasional.Ada banyak kasus, yg dgn analisa super modern dan backup alat2 kedokteran canggih,gagal dalam prakteknya.Pernahkah mas Judhi mendengar pengobatan dari air seni? yg dari sudut kesehatan itu sebenarnya sisa2 kotoran yang harus dibuang? So,setiap upaya manusia apapun itu bentuknya harus kita hargai,jadi jangan terlalu sinis menanggapi pengobatan konvensional (bekam) sebagai sesuatu yang lucu (humor),poin ini yg saya tidak setuju dari tulisan mas Judhi...makasih.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sebagian orang ,apalagi yg sedang sakit,apa yg diupayakan untuk kesembuhannya kadang melewati batas rasiona.Tak peduli itu pengobatan modern yg telah melewati uji klinis dan di uji coba ratusan kali,atau cuma sekedar batu kali ponari,muaranya adalah kesembuhan. Untuk pribadi yang yakin,obat atau pengobatan cuma sekedar sarana,ada hal2 gaib yang kadang turut andil dlm proses kesembuhannya yg kadang tidak bisa dijelaskan dengan rasional.Ada banyak kasus, yg dgn analisa super modern dan backup alat2 kedokteran canggih,gagal dalam prakteknya.Pernahkah mas Judhi mendengar pengobatan dari air seni? yg dari sudut kesehatan itu sebenarnya sisa2 kotoran yang harus dibuang? So,setiap upaya manusia apapun itu bentuknya harus kita hargai,jadi jangan terlalu sinis menanggapi pengobatan konvensional (bekam) sebagai sesuatu yang lucu (humor),poin ini yg saya tidak setuju dari tulisan mas Judhi&#8230;makasih.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Ryono		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-635</link>

		<dc:creator><![CDATA[Ryono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 05:35:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-635</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-634&quot;&gt;Judhianto&lt;/a&gt;.

Mau memilih pengobatan &quot;rasional &#038; teruji&quot; itu hak anda, namun mengatakan bahwa para praktisi dan pendukung Bekam itu adalah sebuah humor peradaban adalah sebuah olok-olok tak cerdas. 
 

 
Paling tidak metode bekam bukan berasal dari kantong sampah sejarah, dan anda sudah bilang bahwa basic teori yang mendukung metode medis ini adalah teori humorism. Dan bisa saja, saat ini, atau masa depan metode itu absah dipakai oleh dunia kedokteran, hal ini sama persis dengan acupunktur maupun hypnoterapi yang menggunakan basic teori kedokteran kuno yang lambat laun diterima luas di dunia kedekteran.
 

 
Jadi jangan skeptis tentang perkembangan sebuah ilmu, riset akan terus dilakukan, inovasi baru terus bermunculan, yang dulu dianggap kuno sekarang diakui modern, yang dulu dianggap tak terbukti scientific sekarang sangat scientific, dalam metode ilmiah, tesis-antitesis akan terus bertarung...
 

 
dan saya pikir, para pendukung bekam itu tentu bukan sekedar menjalankan transaksi pengobatan biasa. Bagi mereka yang punya keyakinan--anda tak perlu mengolok-oloknya--sembuh tak sembuh, manjur tak manjur tak jadi soal...yang penting menjalankan apa yang menurut mereka sunnah, dan itu pahala buat mereka, belum lagi sugesti iman mereka mengatakan, bahwa sakit-pun pelubur dosa, jadi apanya yang rugi...
 

 
hanya saya tak setuju memang dengan penggunaan dalil-dalil kitab suci, hal ini saya pikir sudah kearah komersialisasi agama. jadi jangan seperti iklam bank syariat yang mendompleng fatwa MUi tentang bunga bank sebagai bumper untuk &quot;memaksa dan mengancam&quot; orang ramai-ramai masuk ke bank syariah... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-634">Judhianto</a>.</p>
<p>Mau memilih pengobatan &#8220;rasional &amp; teruji&#8221; itu hak anda, namun mengatakan bahwa para praktisi dan pendukung Bekam itu adalah sebuah humor peradaban adalah sebuah olok-olok tak cerdas. </p>
<p>Paling tidak metode bekam bukan berasal dari kantong sampah sejarah, dan anda sudah bilang bahwa basic teori yang mendukung metode medis ini adalah teori humorism. Dan bisa saja, saat ini, atau masa depan metode itu absah dipakai oleh dunia kedokteran, hal ini sama persis dengan acupunktur maupun hypnoterapi yang menggunakan basic teori kedokteran kuno yang lambat laun diterima luas di dunia kedekteran.</p>
<p>Jadi jangan skeptis tentang perkembangan sebuah ilmu, riset akan terus dilakukan, inovasi baru terus bermunculan, yang dulu dianggap kuno sekarang diakui modern, yang dulu dianggap tak terbukti scientific sekarang sangat scientific, dalam metode ilmiah, tesis-antitesis akan terus bertarung&#8230;</p>
<p>dan saya pikir, para pendukung bekam itu tentu bukan sekedar menjalankan transaksi pengobatan biasa. Bagi mereka yang punya keyakinan&#8211;anda tak perlu mengolok-oloknya&#8211;sembuh tak sembuh, manjur tak manjur tak jadi soal&#8230;yang penting menjalankan apa yang menurut mereka sunnah, dan itu pahala buat mereka, belum lagi sugesti iman mereka mengatakan, bahwa sakit-pun pelubur dosa, jadi apanya yang rugi&#8230;</p>
<p>hanya saya tak setuju memang dengan penggunaan dalil-dalil kitab suci, hal ini saya pikir sudah kearah komersialisasi agama. jadi jangan seperti iklam bank syariat yang mendompleng fatwa MUi tentang bunga bank sebagai bumper untuk &#8220;memaksa dan mengancam&#8221; orang ramai-ramai masuk ke bank syariah&#8230; </p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/bekam-dan-humorism/comment-page-1/#comment-634</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 03:38:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/bekam-dan-humorism/#comment-634</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/ketika-cerita-quran-berbeda/comment-page-1/#comment-224&quot;&gt;Edi Susanto&lt;/a&gt;.

&lt;strong&gt;Ryono :&lt;/strong&gt; Terima kasih untuk berkomentar di tulisan saya.&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt; Apapun jenis kucing, yang penting dia bisa membunuh tikus&lt;/strong&gt; --&#062; saya setuju dengan ungkapan ini. Ungkapan ini juga sejalan dengan semangat kedokteran modern. Banyak obat modern yang belum diketahui persis mekanismenya, akan tetapi bisa dimasukkan ke dalam obat standard.

Pengobatan modern bersandar pada fakta. Suatu obat bisa diterima sebagai obat standar bila telah menjalani serangkaian uji coba untuk memastikan khasiatnya. Sebagai contoh seorang dokter pernah mengatakan, ponstan masuk sebagai obat standar untuk penghilang nyeri setelah terbukti manjur diuji coba kepada 200 ribu pasien dengan berbagai metode uji. Salah satu metodenya adalah membandingkan hasil pada pasien yg diberi ponstan dan pasien yg diberi obat kosong, dimana mereka tidak tahu yg mana obat kosong dan postan, hasilnya yg diberi ponstan reda rasa sakitnya.

Banyak metoda tradisional yg juga diuji dengan metode ini, salah satunya adalah akupunctur. Acupunctur bisa diterima sebagai metode alternatif pengobatan dan bahkan diajarkan di beberapa sekolah medis. Mekanismenya masih diperdebatkan, akan tetapi ia bisa diterima karena bisa diuji.

Untuk bekam, kalau mau diterima sebagai alternatif pengobatan, ya mereka harus mau menjalani uji coba yang rasional dengan sampel yang banyak. Tidak hanya mengatakan bahwa itu manjur dengan bekal setumpuk dalil-dalil agama serta kesaksian beberapa orang yg merasa manjur.

Tentang sugesti, semua orang boleh punya. Dari kecil saya punya sugesti: bila sakit kalau sudah disuntik oleh dokter, saya pasti sembuh. Suntikan dokter mungkin tidak langsung sembuhkan saya, akan tetapi sugesti saya meningkatkan rasa optimis dan membantu proses penyembuhan saya.

Manusia berhak memilih sugestinya sendiri, dan saya memilih untuk percaya dengan yang rasional dan teruji. Saya tidak mau ambil resiko berdasarkan klaim-klaim yg tidak teruji, yg mungkin berbahaya bagi kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/ketika-cerita-quran-berbeda/comment-page-1/#comment-224">Edi Susanto</a>.</p>
<p><strong>Ryono :</strong> Terima kasih untuk berkomentar di tulisan saya.<br />
<strong> Apapun jenis kucing, yang penting dia bisa membunuh tikus</strong> &#8211;&gt; saya setuju dengan ungkapan ini. Ungkapan ini juga sejalan dengan semangat kedokteran modern. Banyak obat modern yang belum diketahui persis mekanismenya, akan tetapi bisa dimasukkan ke dalam obat standard.</p>
<p>Pengobatan modern bersandar pada fakta. Suatu obat bisa diterima sebagai obat standar bila telah menjalani serangkaian uji coba untuk memastikan khasiatnya. Sebagai contoh seorang dokter pernah mengatakan, ponstan masuk sebagai obat standar untuk penghilang nyeri setelah terbukti manjur diuji coba kepada 200 ribu pasien dengan berbagai metode uji. Salah satu metodenya adalah membandingkan hasil pada pasien yg diberi ponstan dan pasien yg diberi obat kosong, dimana mereka tidak tahu yg mana obat kosong dan postan, hasilnya yg diberi ponstan reda rasa sakitnya.</p>
<p>Banyak metoda tradisional yg juga diuji dengan metode ini, salah satunya adalah akupunctur. Acupunctur bisa diterima sebagai metode alternatif pengobatan dan bahkan diajarkan di beberapa sekolah medis. Mekanismenya masih diperdebatkan, akan tetapi ia bisa diterima karena bisa diuji.</p>
<p>Untuk bekam, kalau mau diterima sebagai alternatif pengobatan, ya mereka harus mau menjalani uji coba yang rasional dengan sampel yang banyak. Tidak hanya mengatakan bahwa itu manjur dengan bekal setumpuk dalil-dalil agama serta kesaksian beberapa orang yg merasa manjur.</p>
<p>Tentang sugesti, semua orang boleh punya. Dari kecil saya punya sugesti: bila sakit kalau sudah disuntik oleh dokter, saya pasti sembuh. Suntikan dokter mungkin tidak langsung sembuhkan saya, akan tetapi sugesti saya meningkatkan rasa optimis dan membantu proses penyembuhan saya.</p>
<p>Manusia berhak memilih sugestinya sendiri, dan saya memilih untuk percaya dengan yang rasional dan teruji. Saya tidak mau ambil resiko berdasarkan klaim-klaim yg tidak teruji, yg mungkin berbahaya bagi kita.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
