<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:series="https://publishpress.com/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Komentar di: Khilafah, Negara Islam Dalam Sejarah	</title>
	<atom:link href="https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/</link>
	<description>Iman, Realitas dan Pertanyaan Tentangnya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Mar 2026 17:18:04 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>
	<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-633</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2018 05:45:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-633</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-632&quot;&gt;pricilia&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Pricilia:&lt;/b&gt; kok nyuruh orang lain mencari tahu? kalau anda tahu hubungan antara kemerdekaan RI dengan khilafah, ya silakan dituliskan di sini, biar bisa saya komentari.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-632">pricilia</a>.</p>
<p><b>@Pricilia:</b> kok nyuruh orang lain mencari tahu? kalau anda tahu hubungan antara kemerdekaan RI dengan khilafah, ya silakan dituliskan di sini, biar bisa saya komentari.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: pricilia		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-632</link>

		<dc:creator><![CDATA[pricilia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2018 01:48:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-632</guid>

					<description><![CDATA[Cobalah mencari apa yag mendorong pahlawan kita di indonesia memperjuangkan kemerdekaan. Dan hubungan indonesia dengan kekhilafahan turki. Apa yg membuat bung tomo membakar semangat arek&quot; sby dg ALLAHUAKBAR bkn merdeka]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cobalah mencari apa yag mendorong pahlawan kita di indonesia memperjuangkan kemerdekaan. Dan hubungan indonesia dengan kekhilafahan turki. Apa yg membuat bung tomo membakar semangat arek&#8221; sby dg ALLAHUAKBAR bkn merdeka</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-631</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Nov 2017 11:54:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-631</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-630&quot;&gt;Aqilla Fariza Mufia (@nurul_azizahh24)&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Aqilla Fariza Mufia :&lt;/b&gt; Khilafah adalah sistem pemerintahan terbaik? 
agar tak cuma terdengar sebagai slogan gombal kosong, mohon tunjukkan apa kelebihan khilafah dalam bidang-bidang yang krusial dalam pemerintahan, seperti metode suksesi, distribusi kekuasaan, pembatasan kekuasaan, serta bagaimana aspirasi rakyat bisa disalurkan. Serta untuk melengkapinya, tunjukkan contoh-contoh nyatanya.

Bisakan? saya tunggu..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-630">Aqilla Fariza Mufia (@nurul_azizahh24)</a>.</p>
<p><b>@Aqilla Fariza Mufia :</b> Khilafah adalah sistem pemerintahan terbaik?<br />
agar tak cuma terdengar sebagai slogan gombal kosong, mohon tunjukkan apa kelebihan khilafah dalam bidang-bidang yang krusial dalam pemerintahan, seperti metode suksesi, distribusi kekuasaan, pembatasan kekuasaan, serta bagaimana aspirasi rakyat bisa disalurkan. Serta untuk melengkapinya, tunjukkan contoh-contoh nyatanya.</p>
<p>Bisakan? saya tunggu..</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Aqilla Fariza Mufia (@nurul_azizahh24)		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-630</link>

		<dc:creator><![CDATA[Aqilla Fariza Mufia (@nurul_azizahh24)]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Nov 2017 08:07:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-630</guid>

					<description><![CDATA[Khilafah islamiyah adalah sistem pemerintahan terbaik, karena umat
muslim akan hidup dengan damai di bawah naungan syariat islam, hal ini juga bisa menjadi jawaban akan keterpurukan yang dialami oleh Inodnesia. selengapnya http://transparan.id]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Khilafah islamiyah adalah sistem pemerintahan terbaik, karena umat<br />
muslim akan hidup dengan damai di bawah naungan syariat islam, hal ini juga bisa menjadi jawaban akan keterpurukan yang dialami oleh Inodnesia. selengapnya <a href="http://transparan.id" rel="nofollow ugc">http://transparan.id</a></p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-629</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2016 03:28:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-629</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-628&quot;&gt;Bellicose Leo&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Bellicose Leo:&lt;/b&gt; Piagam Madinah? semoga dapat bahan ide yang menarik..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-628">Bellicose Leo</a>.</p>
<p><b>@Bellicose Leo:</b> Piagam Madinah? semoga dapat bahan ide yang menarik..</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Bellicose Leo		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-628</link>

		<dc:creator><![CDATA[Bellicose Leo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2016 12:34:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-628</guid>

					<description><![CDATA[Membaca artikel ini telah mengingatkan saya mengenai
&quot;Ketika tahun pertama Hijrah Nabi ke Madinah.. Baginda telah maembuat satu perjanjian bertulis (peraturan) yg dikenali Piagam Madinah. Dari bacaan saya, ia juga dikenali dengan  perlembagaan madinah.. &quot;
Saya bearharap saudara Judhianto sudi menulis satu artikel mengenai Piagam Madinah satu hari nanti.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca artikel ini telah mengingatkan saya mengenai<br />
&#8220;Ketika tahun pertama Hijrah Nabi ke Madinah.. Baginda telah maembuat satu perjanjian bertulis (peraturan) yg dikenali Piagam Madinah. Dari bacaan saya, ia juga dikenali dengan  perlembagaan madinah.. &#8221;<br />
Saya bearharap saudara Judhianto sudi menulis satu artikel mengenai Piagam Madinah satu hari nanti.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-627</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 May 2016 07:16:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-627</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-626&quot;&gt;Tri Mulat&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Tri Mulat:&lt;/b&gt; komentar anda:

&lt;blockquote&gt;Kalau saya percaya ada peranan Abdullah bin Saba dalam menghasut umat masa Usman. Karena 2 faktor, dalam dan luar yang menentukan subur atau matinya Islam.&lt;/blockquote&gt;

Baiklah ada kemajuan, yaitu mau mengakui memang ada masalah dalam tubuh umat Islam sendiri.

Tapi bagaimana kita bisa membuat perbaikan kalau tak jelas masalahnya apa. Jadi yang anda sebut faktor dalam itu apa? (tolong yang jelas, spesifik dan tak berpanjang-lebar tanpa inti)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-626">Tri Mulat</a>.</p>
<p><b>@Tri Mulat:</b> komentar anda:</p>
<blockquote><p>Kalau saya percaya ada peranan Abdullah bin Saba dalam menghasut umat masa Usman. Karena 2 faktor, dalam dan luar yang menentukan subur atau matinya Islam.</p></blockquote>
<p>Baiklah ada kemajuan, yaitu mau mengakui memang ada masalah dalam tubuh umat Islam sendiri.</p>
<p>Tapi bagaimana kita bisa membuat perbaikan kalau tak jelas masalahnya apa. Jadi yang anda sebut faktor dalam itu apa? (tolong yang jelas, spesifik dan tak berpanjang-lebar tanpa inti)</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Tri Mulat		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-2/#comment-626</link>

		<dc:creator><![CDATA[Tri Mulat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 May 2016 07:07:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-626</guid>

					<description><![CDATA[Kalau saya percaya ada peranan Abdullah bin Saba dalam menghasut umat masa Usman. Karena 2 faktor,  dalam dan luar yang menentukan subur atau matinya Islam. Seperti tanaman padi, gak mungkin satu faktor saja ia tumbuh subur, ada banyak faktor yang menyebabkan padi berkembang, seperti faktor genetik, faktor luar pupuk, air, cahaya matahari. bahkan ia bisa mati karena faktor luar seperti angin kencang, banjir, hama dan penyakit tanaman. Memang benar salah satu kemunduran adalah kelemahan umat islam sendiri. Seperti dialog Heraclius (Romawi Timur) setelah perang Yarmuk. ia berkata kepada bawahannya, Mengapa kita kalah dengan Muslim, padahal jumlah kita berkali lipat dengan mereka?. Bawahannya berkata &quot;Mereka rajin sholat malam, puasa disiang hari, tidak pernah berdusta/berbohong, berbuat adil, suka berbuat kebaikan, menjalankan perintah dan larangan Kitab Al-Quran dan nabinya, Muhammad&quot;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saya percaya ada peranan Abdullah bin Saba dalam menghasut umat masa Usman. Karena 2 faktor,  dalam dan luar yang menentukan subur atau matinya Islam. Seperti tanaman padi, gak mungkin satu faktor saja ia tumbuh subur, ada banyak faktor yang menyebabkan padi berkembang, seperti faktor genetik, faktor luar pupuk, air, cahaya matahari. bahkan ia bisa mati karena faktor luar seperti angin kencang, banjir, hama dan penyakit tanaman. Memang benar salah satu kemunduran adalah kelemahan umat islam sendiri. Seperti dialog Heraclius (Romawi Timur) setelah perang Yarmuk. ia berkata kepada bawahannya, Mengapa kita kalah dengan Muslim, padahal jumlah kita berkali lipat dengan mereka?. Bawahannya berkata &#8220;Mereka rajin sholat malam, puasa disiang hari, tidak pernah berdusta/berbohong, berbuat adil, suka berbuat kebaikan, menjalankan perintah dan larangan Kitab Al-Quran dan nabinya, Muhammad&#8221;</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-1/#comment-625</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 May 2016 03:25:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-625</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-1/#comment-624&quot;&gt;Tri Mulat&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Tri Mulat:&lt;/b&gt; menyalahkan orang lain? yaitu orang Yahudi?

Jadi menurut anda, intinya ada seorang Yahudi (Abdullah bin Saba’) yang menghasut umat Islam agar memusuhi Usman (yang tak mempunyai salah) dan akhirnya umat Islam tersebut memberontak kepada Usman?

Kalau menurut logika anda, berarti &gt;&gt; Umat Islam saat itu bodohnya minta ampun, sehingga lebih percaya orang Yahudi dibandingkan dengan Usman dan semua sahabat Nabi yang masih hidup dan tidak memusuhi Usman.

Lalu bagaimana dengan Muawiyah yang akhirnya melembagakan nepotisme dalam bentuk negara kerajaan untuk keluarga mereka (Bani Umayyah)? salah Yahudi juga?

Pantesan umat Islam saat ini melaju kencang mundur kebelakang. Lha wong setiap ada masalah hobinya menyalahkan orang lain dan tak mau meneliti apa yang salah dan kurang dari dirinya sendiri agar bisa melakukan perbaikan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-1/#comment-624">Tri Mulat</a>.</p>
<p><b>@Tri Mulat:</b> menyalahkan orang lain? yaitu orang Yahudi?</p>
<p>Jadi menurut anda, intinya ada seorang Yahudi (Abdullah bin Saba’) yang menghasut umat Islam agar memusuhi Usman (yang tak mempunyai salah) dan akhirnya umat Islam tersebut memberontak kepada Usman?</p>
<p>Kalau menurut logika anda, berarti >> Umat Islam saat itu bodohnya minta ampun, sehingga lebih percaya orang Yahudi dibandingkan dengan Usman dan semua sahabat Nabi yang masih hidup dan tidak memusuhi Usman.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Muawiyah yang akhirnya melembagakan nepotisme dalam bentuk negara kerajaan untuk keluarga mereka (Bani Umayyah)? salah Yahudi juga?</p>
<p>Pantesan umat Islam saat ini melaju kencang mundur kebelakang. Lha wong setiap ada masalah hobinya menyalahkan orang lain dan tak mau meneliti apa yang salah dan kurang dari dirinya sendiri agar bisa melakukan perbaikan.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Tri Mulat		</title>
		<link>https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-1/#comment-624</link>

		<dc:creator><![CDATA[Tri Mulat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 May 2016 03:07:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://nontondunia.wordpress.com/2011/05/01/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/#comment-624</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-1/#comment-621&quot;&gt;Judhianto&lt;/a&gt;.

Pemberontakan besar-besaran yang di lakukan oleh umat islam yang dihasut oleh rabbi Yahudi yang pura-pura masuk islam, yaitu Abdullah bin Saba.  Ia melakukan gerakan fitnah dan mengadudomba umat islam selama 5 tahun. Ia   banyak mengunjungi negeri Muslim.  Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi dari Shan’a, Yaman, yang berpura-pura masuk Islam dan menampakkan rasa cinta kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Rencana besarnya menghancurkan Islam dari dalam, karena muslim semakin banyak dan tidak bisa dilawan dengan senjata. Dialah yang menjadi penyebab utama terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Di antara bukti riwayat yang menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ adalah riwayat Syiah dari Abu Ja’far bahwa Abdullah bin Saba’ mengaku sebagai nabi dan meyakini bahwa Amirul Mukminin Ali radhiallahu ‘anhu adalah Allah‘azza wa jalla. Berita itu sampai kepada Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu memanggilnya dan bertanya kepadanya. Abdullah bin Saba mengakuinya dan berkata, “Ya, engkaulah Dia. Telah dibisikkan ke dalam sanubariku bahwa engkau adalah Allah ‘azza wa jalla, sedangkan aku adalah seorang nabi.”
Amirul Mukminin berkata radhiallahu ‘anhu, “Celaka kamu, sungguh setan telah menguasaimu. Tarik ucapanmu ini dan bertobatlah.”
Dia enggan bertobat sehingga Ali radhiallahu ‘anhu menahannya selama tiga hari dan menyuruhnya bertobat. Namun, dia enggan bertobat sehingga beliau membakarnya dengan api dan berkata, “Sesungguhnya setan menguasainya, datang  kepadanya, dan membisikkan hal itu ke dalam hatinya.”
Diriwayatkan oleh Syiah dari Abu Abdillah bahwa ia berkata, “Semoga Allah ‘azza wa jalla melaknat Abdullah bin Saba. Sesungguhnya dia menganggap diri Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu sebagai Rabb, padahal Amirul Mukminin adalah seorang hamba yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla. Celaka bagi orang yang dusta atas nama kami. Sesungguhnya ada sebagian kaum yang berkata tentang kami yang kami sendiri tidak mengucapkan hal itu tentang diri kami. Kami berlepas diri kepada Allah ‘azza wa jalla dari mereka; kami berlepas diri kepada Allah ‘azza wa jalla dari mereka.” (Ma’rifat Akhbar ar-Rijal, karya al-Kisysyi, hlm. 70—71)
Al-Mamaqani berkata, “Abdullah bin Saba’ kembali kafir dan menampakkan sikap berlebih-lebihan.” Ia juga berkata, “Dia seorang yang ekstrem, terlaknat, dan dibakar oleh Amirul Mukminin dengan api. Dia menyangka bahwa Aliradhiallahu ‘anhu adalah ilah, sedangkan dirinya seorang nabi.” (Tanqihul Maqal fi Ma’rifat ar-Rijal, 2/183—184)
Dalam riwayat Syiah dari Ibnu Abil Hadid berkata, “Orang pertama yang menampakkan sikap ekstrem pada masa pemerintahannya (yaitu Ali radhiallahu ‘anhu -pen.) adalah Abdullah bin Saba’. Sambil berdiri tatkala Ali radhiallahu ‘anhu sedang berkhutbah, Ibnu Saba berkata, ‘Engkaulah, engkaulah…’ Dia terus mengulangnya.
Ali radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya, ‘Celaka kamu, siapa aku?’
Ibnu Saba’ menjawab, ‘Engkaulah Allah.’
Ali radhiallahu ‘anhu kemudian memerintahkan untuk menangkapnya, sedangkan sebagian kaum ada yang sejalan dengan pendapatnya .” (Syarah Nahjul Balaghah, 2/234)
Dari Ni’matullah al-Jazairi, Abdulah bin Saba berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “Engkaulah ilah yang sebenarnya.”
Ali radhiallahu ‘anhu kemudian mengucilkannya ke daerah Madain. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam. 
Adapun dari kalangan Ahlus Sunnah, seluruh ulama sunnah menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ sebagai salah satu tokoh fitnah dalam sejarah Islam. Di antara yang menetapkan adanya Ibnu Saba’ adalah Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tarikhnya, Ibnu Abdi Rabbihi dalam al-‘Aqdul Farid, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, al-Baghdadi dalam al-Farqu Bainal Firaq, Ibnu Hazm al-Andalusi dalam al-Fashl fil Milal, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, as-Sam’ani dalam al-Ansab, dan yang lainnya.

Abdullah bin Saba’, Pencetus Pemikiran Rafidhah
Telah masyhur bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang yang mencetuskan pemikiran Rafidhah, dan asal pemikiran Rafidhah ialah dari Yahudi.
Para ulama telah menyebutkan bahwa asal mula pemikiran Rafidhah berasal dari seorang zindiq/rabbi (Abdullah bin Saba’). Dia menampakkan diri sebagai muslim dan menyembunyikan pemikiran Yahudinya. Dia berkeinginan untuk merusak Islam seperti yang telah dilakukan oleh Paulus Si Nasrani yang sebelumnya adalah seorang Yahudi untuk merusak agama Nasrani.” 
Beliau juga berkata, “Asal pemikiran Rafidhah dari kaum munafik zindiq  yang dimunculkan oleh Ibnu Saba’ az-Zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrem terhadap Ali radhiallahu ‘anhu dengan alasan bahwa beliaulah yang berhak menjadi imam dan telah disebutkan nash tentang hal tersebut. Bahkan, ia menganggap Ali radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang maksum. Karena asal mula pemikiran ini dari kemunafikan, sebagian salaf berkata, ‘Mencintai Abu Bakr dan Umar merupakan iman, sedangkan membenci keduanya merupakan kemunafikan. Cinta Bani Hasyim merupakan keimanan, sedangkan membenci mereka adalah kemunafikan’.” 
Demikian pula yang diterangkan oleh Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah, “Sesungguhnya asal Rafidhah dimunculkan oleh munafik zindiq yang bertujuan membatalkan agama Islam dan mencerca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagaimana yang telah diterangkan oleh para ulama. Tatkala Abdullah bin Saba’ menampakkan keislaman, dia ingin merusak agama Islam dengan makar dan kejahatannya, sebagaimana halnya Paulus yang berpura-pura sebagai ahli ibadah dalam agama Nasrani. Dia menyebabkan munculnya fitnah terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu dan terbunuhnya beliau.”

Keterlibatan Abdullah bin Saba dalam Peristiwa Terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu
Abdullah bin Saba’ berpura-pura masuk Islam pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Dia mengelilingi berbagai negeri untuk menyesatkan umat. Dimulai dari Hijaz, Kufah, lalu ke Syam.
Akan tetapi, dia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Dia pun menuju Mesir dan menanamkan beberapa keyakinan Saba’iyah kepada penduduk Mesir.
Di antaranya adalah keyakinan alwashiyah. Ia berkata, “Sesungguhnya, dahulu ada seribu nabi dan setiap nabi memiliki washi (yang diserahi wasiat). Ali radhiallahu ‘anhu adalah penerima wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dia berkata bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, sedangkan Ali radhiallahu ‘anhu adalah penutup para penerima wasiat. Siapakah yang paling zalim dari orang yang tidak menjalankan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melangkahi Ali radhiallahu ‘anhu yang diangkat sebagai penerima wasiat, dan mengambil alih kekuasaan?
Selanjutnya dia berkata, “Sesungguhnya Utsman radhiallahu ‘anhu telah mengambil kekuasaan tanpa hak, sementara Ali radhiallahu ‘anhu adalah penerima wasiat Nabi. Bangkitlah kalian, lakukanlah gerakan, dan mulailah celaan terhadap penguasa kalian. Tampakkan diri sebagai orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar agar kalian dapat menarik hati manusia. Ajaklah mereka melakukan hal ini.”
Akhirnya, dia berhasil menyebarkan berita ini di tengah-tengah umat Islam. Sekelompok orang yang berasal dari Basrah, Kufah, dan Mesir terhasut. Mereka berangkat menuju Madinah pada 35 H, seolah-olah pergi untuk menunaikan ibadah haji. Mereka merahasiakan tujuan sebenarnya untuk memberontak terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu. Jumlah mereka diperselisihkan. Ada yang mengatakan 2.000 orang dari Basrah, 2.000 orang dari Kufah, dan 2.000 orang dari Mesir. Adapula yang mengatakan bahwa seluruhnya berjumlah 2.000 orang.
Mereka memasuki Madinah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu pada akhir Dzulqa’dah dan memerintahkan agar Utsman radhiallahu ‘anhu lengser dari jabatan khalifah. Pengepungan tersebut dimulai dari akhir Dzulqa’dah hingga hari Jum’at 18 Dzulhijjah yang merupakan hari terbunuhnya Utsman.
Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa pengepungan itu berlangsung selama empat puluh hari, sementara Utsman radhiallahu ‘anhu hanya berada di rumahnya, bahkan dilarang untuk mengambil air. Sementara itu, yang memimpin shalat jamaah adalah seseorang yang terlibat dalam fitnah.
Ubaidullah bin Adi bin al-Khiyar kemudian mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan bertanya, “Yang memimpin shalat kami adalah seorang imam fitnah. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?”
Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Shalat adalah amalan terbaik yang diamalkan oleh manusia. Jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka. Jika mereka berbuat keburukan, jauhilah kejelekan mereka.”
Sebagian sahabat mengutarakan keinginan mereka kepada Utsman radhiallahu ‘anhu untuk membela beliau. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, al-Hasan bin Ali, al-Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Zubair.
Namun, Utsman radhiallahu ‘anhu memerintah mereka agar tidak melakukan perlawanan yang dapat menyebabkan terjadinya pertumpahan darah. Sebab lainnya, beliau bermimpi yang menunjukkan telah dekatnya ajal beliau. Beliau radhiallahu ‘anhu berserah diri menerima keputusan Allah ‘azza wa jalla.
Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Para penolongmu telah ada di dekat pintu ini. Mereka berkata, ‘Jika engkau mau, kami akan menjadi ansharullah sebagaimana kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami akan melakukan perlawanan bersamamu’.”
Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Jika peperangan, tidak.”
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu. Lalu Utsman radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Ibnu Umar, perhatikanlah apa yang mereka ucapkan. Mereka berkata, ‘Tinggalkan kekuasaan itu dan jangan engkau membunuh dirimu’.”
Ibnu Umar berkata, “Jika engkau melepaskannya, apakah engkau akan dikekalkan hidup di dunia?”
Utsman menjawab, “Tidak.”
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku sarankan agar engkau tidak melepaskan sebuah pakaian yang telah Allah ‘azza wa jalla pakaikan kepadamu sehingga nantinya akan menjadi contoh. Setiap kali ada kaum yang membenci khalifah atau imamnya, mereka segera mencopot penguasanya dari jabatannya.”
Setelah sekian lama mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu, mereka masuk dan membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu dalam keadaan beliau meletakkan mushaf di hadapannya. Tetesan darah Utsman radhiallahu ‘anhu tepat mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,
“Jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan . Maka dari itu, Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)
Mereka yang diketahui sebagai tokoh pergerakan yang menyebabkan terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu adalah Ruman al-Yamani, Kinanah bin Bisyr, Sudan bin Hamran, dan Malik bin al-Asytar an-Nakha’i. Adapun yang terlibat langsung dalam pembunuhan Utsman radhiallahu ‘anhu adalah seseorang yang berasal dari Mesir yang bernama Jabalah.
Demikianlah akhir dari makar dan tipu daya Yahudi ini: terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu, khalifah rasyid yang ketiga, dengan cara yang zalim melalui tangan seorang Yahudi. Pembuat makar yang masuk Islam dalam rangka melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin dan menghancurkan persatuan mereka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/agama/khilafah-negara-islam-dalam-sejarah/comment-page-1/#comment-621">Judhianto</a>.</p>
<p>Pemberontakan besar-besaran yang di lakukan oleh umat islam yang dihasut oleh rabbi Yahudi yang pura-pura masuk islam, yaitu Abdullah bin Saba.  Ia melakukan gerakan fitnah dan mengadudomba umat islam selama 5 tahun. Ia   banyak mengunjungi negeri Muslim.  Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi dari Shan’a, Yaman, yang berpura-pura masuk Islam dan menampakkan rasa cinta kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Rencana besarnya menghancurkan Islam dari dalam, karena muslim semakin banyak dan tidak bisa dilawan dengan senjata. Dialah yang menjadi penyebab utama terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.</p>
<p>Di antara bukti riwayat yang menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ adalah riwayat Syiah dari Abu Ja’far bahwa Abdullah bin Saba’ mengaku sebagai nabi dan meyakini bahwa Amirul Mukminin Ali radhiallahu ‘anhu adalah Allah‘azza wa jalla. Berita itu sampai kepada Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu memanggilnya dan bertanya kepadanya. Abdullah bin Saba mengakuinya dan berkata, “Ya, engkaulah Dia. Telah dibisikkan ke dalam sanubariku bahwa engkau adalah Allah ‘azza wa jalla, sedangkan aku adalah seorang nabi.”<br />
Amirul Mukminin berkata radhiallahu ‘anhu, “Celaka kamu, sungguh setan telah menguasaimu. Tarik ucapanmu ini dan bertobatlah.”<br />
Dia enggan bertobat sehingga Ali radhiallahu ‘anhu menahannya selama tiga hari dan menyuruhnya bertobat. Namun, dia enggan bertobat sehingga beliau membakarnya dengan api dan berkata, “Sesungguhnya setan menguasainya, datang  kepadanya, dan membisikkan hal itu ke dalam hatinya.”<br />
Diriwayatkan oleh Syiah dari Abu Abdillah bahwa ia berkata, “Semoga Allah ‘azza wa jalla melaknat Abdullah bin Saba. Sesungguhnya dia menganggap diri Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu sebagai Rabb, padahal Amirul Mukminin adalah seorang hamba yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla. Celaka bagi orang yang dusta atas nama kami. Sesungguhnya ada sebagian kaum yang berkata tentang kami yang kami sendiri tidak mengucapkan hal itu tentang diri kami. Kami berlepas diri kepada Allah ‘azza wa jalla dari mereka; kami berlepas diri kepada Allah ‘azza wa jalla dari mereka.” (Ma’rifat Akhbar ar-Rijal, karya al-Kisysyi, hlm. 70—71)<br />
Al-Mamaqani berkata, “Abdullah bin Saba’ kembali kafir dan menampakkan sikap berlebih-lebihan.” Ia juga berkata, “Dia seorang yang ekstrem, terlaknat, dan dibakar oleh Amirul Mukminin dengan api. Dia menyangka bahwa Aliradhiallahu ‘anhu adalah ilah, sedangkan dirinya seorang nabi.” (Tanqihul Maqal fi Ma’rifat ar-Rijal, 2/183—184)<br />
Dalam riwayat Syiah dari Ibnu Abil Hadid berkata, “Orang pertama yang menampakkan sikap ekstrem pada masa pemerintahannya (yaitu Ali radhiallahu ‘anhu -pen.) adalah Abdullah bin Saba’. Sambil berdiri tatkala Ali radhiallahu ‘anhu sedang berkhutbah, Ibnu Saba berkata, ‘Engkaulah, engkaulah…’ Dia terus mengulangnya.<br />
Ali radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya, ‘Celaka kamu, siapa aku?’<br />
Ibnu Saba’ menjawab, ‘Engkaulah Allah.’<br />
Ali radhiallahu ‘anhu kemudian memerintahkan untuk menangkapnya, sedangkan sebagian kaum ada yang sejalan dengan pendapatnya .” (Syarah Nahjul Balaghah, 2/234)<br />
Dari Ni’matullah al-Jazairi, Abdulah bin Saba berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “Engkaulah ilah yang sebenarnya.”<br />
Ali radhiallahu ‘anhu kemudian mengucilkannya ke daerah Madain. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam.<br />
Adapun dari kalangan Ahlus Sunnah, seluruh ulama sunnah menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ sebagai salah satu tokoh fitnah dalam sejarah Islam. Di antara yang menetapkan adanya Ibnu Saba’ adalah Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tarikhnya, Ibnu Abdi Rabbihi dalam al-‘Aqdul Farid, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, al-Baghdadi dalam al-Farqu Bainal Firaq, Ibnu Hazm al-Andalusi dalam al-Fashl fil Milal, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, as-Sam’ani dalam al-Ansab, dan yang lainnya.</p>
<p>Abdullah bin Saba’, Pencetus Pemikiran Rafidhah<br />
Telah masyhur bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang yang mencetuskan pemikiran Rafidhah, dan asal pemikiran Rafidhah ialah dari Yahudi.<br />
Para ulama telah menyebutkan bahwa asal mula pemikiran Rafidhah berasal dari seorang zindiq/rabbi (Abdullah bin Saba’). Dia menampakkan diri sebagai muslim dan menyembunyikan pemikiran Yahudinya. Dia berkeinginan untuk merusak Islam seperti yang telah dilakukan oleh Paulus Si Nasrani yang sebelumnya adalah seorang Yahudi untuk merusak agama Nasrani.”<br />
Beliau juga berkata, “Asal pemikiran Rafidhah dari kaum munafik zindiq  yang dimunculkan oleh Ibnu Saba’ az-Zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrem terhadap Ali radhiallahu ‘anhu dengan alasan bahwa beliaulah yang berhak menjadi imam dan telah disebutkan nash tentang hal tersebut. Bahkan, ia menganggap Ali radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang maksum. Karena asal mula pemikiran ini dari kemunafikan, sebagian salaf berkata, ‘Mencintai Abu Bakr dan Umar merupakan iman, sedangkan membenci keduanya merupakan kemunafikan. Cinta Bani Hasyim merupakan keimanan, sedangkan membenci mereka adalah kemunafikan’.”<br />
Demikian pula yang diterangkan oleh Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah, “Sesungguhnya asal Rafidhah dimunculkan oleh munafik zindiq yang bertujuan membatalkan agama Islam dan mencerca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagaimana yang telah diterangkan oleh para ulama. Tatkala Abdullah bin Saba’ menampakkan keislaman, dia ingin merusak agama Islam dengan makar dan kejahatannya, sebagaimana halnya Paulus yang berpura-pura sebagai ahli ibadah dalam agama Nasrani. Dia menyebabkan munculnya fitnah terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu dan terbunuhnya beliau.”</p>
<p>Keterlibatan Abdullah bin Saba dalam Peristiwa Terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu<br />
Abdullah bin Saba’ berpura-pura masuk Islam pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Dia mengelilingi berbagai negeri untuk menyesatkan umat. Dimulai dari Hijaz, Kufah, lalu ke Syam.<br />
Akan tetapi, dia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Dia pun menuju Mesir dan menanamkan beberapa keyakinan Saba’iyah kepada penduduk Mesir.<br />
Di antaranya adalah keyakinan alwashiyah. Ia berkata, “Sesungguhnya, dahulu ada seribu nabi dan setiap nabi memiliki washi (yang diserahi wasiat). Ali radhiallahu ‘anhu adalah penerima wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dia berkata bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, sedangkan Ali radhiallahu ‘anhu adalah penutup para penerima wasiat. Siapakah yang paling zalim dari orang yang tidak menjalankan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melangkahi Ali radhiallahu ‘anhu yang diangkat sebagai penerima wasiat, dan mengambil alih kekuasaan?<br />
Selanjutnya dia berkata, “Sesungguhnya Utsman radhiallahu ‘anhu telah mengambil kekuasaan tanpa hak, sementara Ali radhiallahu ‘anhu adalah penerima wasiat Nabi. Bangkitlah kalian, lakukanlah gerakan, dan mulailah celaan terhadap penguasa kalian. Tampakkan diri sebagai orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar agar kalian dapat menarik hati manusia. Ajaklah mereka melakukan hal ini.”<br />
Akhirnya, dia berhasil menyebarkan berita ini di tengah-tengah umat Islam. Sekelompok orang yang berasal dari Basrah, Kufah, dan Mesir terhasut. Mereka berangkat menuju Madinah pada 35 H, seolah-olah pergi untuk menunaikan ibadah haji. Mereka merahasiakan tujuan sebenarnya untuk memberontak terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu. Jumlah mereka diperselisihkan. Ada yang mengatakan 2.000 orang dari Basrah, 2.000 orang dari Kufah, dan 2.000 orang dari Mesir. Adapula yang mengatakan bahwa seluruhnya berjumlah 2.000 orang.<br />
Mereka memasuki Madinah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu pada akhir Dzulqa’dah dan memerintahkan agar Utsman radhiallahu ‘anhu lengser dari jabatan khalifah. Pengepungan tersebut dimulai dari akhir Dzulqa’dah hingga hari Jum’at 18 Dzulhijjah yang merupakan hari terbunuhnya Utsman.<br />
Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa pengepungan itu berlangsung selama empat puluh hari, sementara Utsman radhiallahu ‘anhu hanya berada di rumahnya, bahkan dilarang untuk mengambil air. Sementara itu, yang memimpin shalat jamaah adalah seseorang yang terlibat dalam fitnah.<br />
Ubaidullah bin Adi bin al-Khiyar kemudian mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan bertanya, “Yang memimpin shalat kami adalah seorang imam fitnah. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?”<br />
Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Shalat adalah amalan terbaik yang diamalkan oleh manusia. Jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka. Jika mereka berbuat keburukan, jauhilah kejelekan mereka.”<br />
Sebagian sahabat mengutarakan keinginan mereka kepada Utsman radhiallahu ‘anhu untuk membela beliau. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, al-Hasan bin Ali, al-Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Zubair.<br />
Namun, Utsman radhiallahu ‘anhu memerintah mereka agar tidak melakukan perlawanan yang dapat menyebabkan terjadinya pertumpahan darah. Sebab lainnya, beliau bermimpi yang menunjukkan telah dekatnya ajal beliau. Beliau radhiallahu ‘anhu berserah diri menerima keputusan Allah ‘azza wa jalla.<br />
Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Para penolongmu telah ada di dekat pintu ini. Mereka berkata, ‘Jika engkau mau, kami akan menjadi ansharullah sebagaimana kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami akan melakukan perlawanan bersamamu’.”<br />
Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Jika peperangan, tidak.”<br />
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu. Lalu Utsman radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Ibnu Umar, perhatikanlah apa yang mereka ucapkan. Mereka berkata, ‘Tinggalkan kekuasaan itu dan jangan engkau membunuh dirimu’.”<br />
Ibnu Umar berkata, “Jika engkau melepaskannya, apakah engkau akan dikekalkan hidup di dunia?”<br />
Utsman menjawab, “Tidak.”<br />
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku sarankan agar engkau tidak melepaskan sebuah pakaian yang telah Allah ‘azza wa jalla pakaikan kepadamu sehingga nantinya akan menjadi contoh. Setiap kali ada kaum yang membenci khalifah atau imamnya, mereka segera mencopot penguasanya dari jabatannya.”<br />
Setelah sekian lama mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu, mereka masuk dan membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu dalam keadaan beliau meletakkan mushaf di hadapannya. Tetesan darah Utsman radhiallahu ‘anhu tepat mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,<br />
“Jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan . Maka dari itu, Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)<br />
Mereka yang diketahui sebagai tokoh pergerakan yang menyebabkan terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu adalah Ruman al-Yamani, Kinanah bin Bisyr, Sudan bin Hamran, dan Malik bin al-Asytar an-Nakha’i. Adapun yang terlibat langsung dalam pembunuhan Utsman radhiallahu ‘anhu adalah seseorang yang berasal dari Mesir yang bernama Jabalah.<br />
Demikianlah akhir dari makar dan tipu daya Yahudi ini: terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu, khalifah rasyid yang ketiga, dengan cara yang zalim melalui tangan seorang Yahudi. Pembuat makar yang masuk Islam dalam rangka melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin dan menghancurkan persatuan mereka.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
