<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:series="https://publishpress.com/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Komentar di: Agama. Maknanya Apa?	</title>
	<atom:link href="https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/</link>
	<description>Iman, Realitas dan Pertanyaan Tentangnya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Mar 2026 23:53:19 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>
	<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2680</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2018 16:00:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2680</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2679&quot;&gt;Hartono&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Hartono:&lt;/b&gt; apakah &quot;Causa Prima&quot; merupakan prinsip semesta?

Ini masalah keyakinan saja.

Causa Prima mengatakan bahwa semua yang ada di semesta ini merupakan hasil rangkaian sebab-akibat, dan di pangkalnya ada pribadi penyebab yang tidak disebabkan oleh apapun. Pribadi ini disebut Tuhan.

Apakah ada bukti yang bisa diverifikasi untuk mendukung pandangan ini? Tidak ada.

Dasarnya hanya keyakinan saja.

Kenyataannya? Bisa jadi ada pribadi tersebut, bisa jadi ini adalah rangkaian tanpa ujung, bisa jadi ini loop tertutup yang berulang pada dirinya sendiri, bisa jadi pangkalnya berupa hukum universal yang bukan sesuatu pribadi.

Banyak kemungkinannya, dan saat ini semuanya di luar pembuktian kita.

Jadi, Causa Prima itu cuma salah satu keyakinan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Yakin boleh,  yakin dengan yang lainnya juga tak jadi masalah, karena akhirnya toh tak bisa diverifikasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2679">Hartono</a>.</p>
<p><b>@Hartono:</b> apakah &#8220;Causa Prima&#8221; merupakan prinsip semesta?</p>
<p>Ini masalah keyakinan saja.</p>
<p>Causa Prima mengatakan bahwa semua yang ada di semesta ini merupakan hasil rangkaian sebab-akibat, dan di pangkalnya ada pribadi penyebab yang tidak disebabkan oleh apapun. Pribadi ini disebut Tuhan.</p>
<p>Apakah ada bukti yang bisa diverifikasi untuk mendukung pandangan ini? Tidak ada.</p>
<p>Dasarnya hanya keyakinan saja.</p>
<p>Kenyataannya? Bisa jadi ada pribadi tersebut, bisa jadi ini adalah rangkaian tanpa ujung, bisa jadi ini loop tertutup yang berulang pada dirinya sendiri, bisa jadi pangkalnya berupa hukum universal yang bukan sesuatu pribadi.</p>
<p>Banyak kemungkinannya, dan saat ini semuanya di luar pembuktian kita.</p>
<p>Jadi, Causa Prima itu cuma salah satu keyakinan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Yakin boleh,  yakin dengan yang lainnya juga tak jadi masalah, karena akhirnya toh tak bisa diverifikasi.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Hartono		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2679</link>

		<dc:creator><![CDATA[Hartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2018 05:49:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2679</guid>

					<description><![CDATA[Bpk Judhianto Ysh,

Jujur baru 2 minggu ini saya menemukan situs ini dan saya sangat menikmati saat membaca-baca tulisan Bapak. Belum banyak yang saya bisa baca karena kesibukan rutinitas sehari-hari.

Ada hal yg sampai dengan saat ini masih menjadi pertanyaan dalam pikiran saya. Hampir semua agama didasarkan pada prinsip &#8220;causa prima&#8221;, ada sebab ada akibat. Anda berbuat jahat, anda masuk neraka. Anda berbuat baik, anda masuk surga.

Pertanyaan saya, apakah prinsip &#8220;causa prima&#8221; ini memang merupakan prinsip utama alama semesta?

Mohon pencerahan, terimakasih.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bpk Judhianto Ysh,</p>
<p>Jujur baru 2 minggu ini saya menemukan situs ini dan saya sangat menikmati saat membaca-baca tulisan Bapak. Belum banyak yang saya bisa baca karena kesibukan rutinitas sehari-hari.</p>
<p>Ada hal yg sampai dengan saat ini masih menjadi pertanyaan dalam pikiran saya. Hampir semua agama didasarkan pada prinsip &#8220;causa prima&#8221;, ada sebab ada akibat. Anda berbuat jahat, anda masuk neraka. Anda berbuat baik, anda masuk surga.</p>
<p>Pertanyaan saya, apakah prinsip &#8220;causa prima&#8221; ini memang merupakan prinsip utama alama semesta?</p>
<p>Mohon pencerahan, terimakasih.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2677</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2016 03:47:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2677</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2676&quot;&gt;Iyon&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Iyon:&lt;/b&gt; terima kasih. Informasi anda menambah wawasan tentang Tuhan dan budaya local kita sendiri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2676">Iyon</a>.</p>
<p><b>@Iyon:</b> terima kasih. Informasi anda menambah wawasan tentang Tuhan dan budaya local kita sendiri.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Iyon		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2676</link>

		<dc:creator><![CDATA[Iyon]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2016 17:23:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2676</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2649&quot;&gt;Judhianto&lt;/a&gt;.

Mas Judhi, terima kasih saya mendapatkan banyak pencerahan dari tulisan-tulisan anda. Saya coba sharing dengan bahasa yang sangat sederhana mengenai pemahaman saya tentang kehidupan beragama dan berketuhanan (semaksimal mungkin saya usahakan bebas dari doktrin atau dogma yang menurut sebagian ahli agama malah dicap kurang ajar hehehee..)

Bila berbicara mengenai keimanan terhadap Tuhan kita kenal ekstrem kiri dan ekstrem kanan. Ekstrem kiri gagal menemukan Tuhan hingga mereka berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada. Semakin hari keyakinan mereka semakin didukung oleh para ilmuwan yang dengan teori-teorinya hingga berani dengan lantang menyatakan kejadian alam raya ini tidak memerlukan andil Tuhan.

Sedangkan ekstrem kanan sangat meyakini dan mengimani bukan hanya kejadian alam raya ini tapi semua kejadian (bahkan setiap helai daun yang jatuh dari pohon pun) adalah atas andil dan izin sang pencipta yakni Tuhan yang maha perkasa. Karena menyakini akan adanya Tuhan mereka masing-masing berusaha mengimajinasikan keberadaan Tuhan baik yang katanya melalui wahyu atau hasil perenungan manusia. Imajinasi itu selalu bebas tidak terikat dengan batasan-batasan yang ada, sedangkan Tuhan adalah puncak imajinasi tersebut. Namun sayangnya masing-masing dari mereka saling memaksakan imajinasi tersebut terhadap pihak lainnya hingga kehidupan dunia ini menjadi jauh dari kedamaian.

Sebagian dari mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak sama dengan apa pun (tidak ada padanannya) namun anehnya mereka selalu berusaha menjadikan Tuhan itu sebagai &quot;sesuatu&quot; dengan membuat aturan-aturan yang berhubungan dengan Tuhan (aturan-aturan seperti &quot;wajib&quot;; &quot;tidak wajib&quot;; &quot;setengah wajib&quot; dan lain-lain). Bila kita melaksanakan aturan yang wajib tersebut maka Tuhan akan senang; namun bila sebaliknya maka Tuhan menjadi murka. Dilain pihak manusia diiming-imingi reward &quot;pahala&quot; dan ancaman &quot;dosa&quot;, dengan hal ini secara tidak sadar Tuhan di-jadikan &quot;sesuatu&quot; (karena Tuhan masih butuh senang; marah dan lain-lain) padahal Tuhan itu TIDAK ADA PADANANNYA.

Sama seperti Mas Judhi diakhir pencarian saya pun pernah mengalami keguncangan karena alasan yang sama ternyata Agama dan Tuhan adalah produk budaya manusia, bukan berasal dari alam supranatural yang tak terbayangkan.

Dari sepenggal periode pencarian, saya menemukan sesuatu hal yang menarik yang berasal dari &quot;kearifan lokal&quot; warisan dari leluhur kita sendiri. Di Nusantara ini dahulu dikenal yang namanya &quot;Agama Budhi&quot; (tidak sama dengan Budha atau Hindu karena sudah ada lebih dulu ribuan tahun sebelumnya) walau sebenarnya tidak pernah meng-klaim sebagai sebuah ajaran agama, karena isinya &quot;hanyalah&quot; nasihat-nasihat sebagai petunjuk hidup yang tidak pernah ada iming-iming tentang &quot;reward&quot; dan &quot;ancaman&quot;. Jadi sebenarnya memang bukan sebuah agama karena itu leluhur kita dituduh sebagai &quot;animisme&quot;; &quot;dinamisme&quot; atau apalah sebutan lainnya oleh orang-orang yang merasa sudah paham betul tentang Tuhan melalui agama mereka. Para leluhur kita dituduh sebagai orang-orang yang tidak kenal agama dan tidak punya Tuhan. Padahal leluhur kita bukan tidak punya Tuhan tapi ternyata malah leluhur kita yang jauh lebih paham bahwa Tuhan itu TIDAK ADA PADANANNYA, Tuhan itu tidak bisa digambarkan dan tidak bisa diceritakan, selebih dari itu ternyata kita semua SALAH PAHAM terhadap leluhur kita sendiri.

Maksudnya salah paham yang bagaimana? Maaf saya hanya bisa katakan kenalilah budaya kita sendiri, bukan berarti kita harus tinggalkan semua agama-agama import tersebut dan kembali ke agama leluhur, bukan itu. Karena toh Agama dan Tuhan itu ternyata adalah produk budaya manusia. Kita belum banyak mengenal budaya kita sendiri bahkan kita menganggap budaya kita sendiri sebagai budaya animisme,sungguh tragis!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2649">Judhianto</a>.</p>
<p>Mas Judhi, terima kasih saya mendapatkan banyak pencerahan dari tulisan-tulisan anda. Saya coba sharing dengan bahasa yang sangat sederhana mengenai pemahaman saya tentang kehidupan beragama dan berketuhanan (semaksimal mungkin saya usahakan bebas dari doktrin atau dogma yang menurut sebagian ahli agama malah dicap kurang ajar hehehee..)</p>
<p>Bila berbicara mengenai keimanan terhadap Tuhan kita kenal ekstrem kiri dan ekstrem kanan. Ekstrem kiri gagal menemukan Tuhan hingga mereka berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada. Semakin hari keyakinan mereka semakin didukung oleh para ilmuwan yang dengan teori-teorinya hingga berani dengan lantang menyatakan kejadian alam raya ini tidak memerlukan andil Tuhan.</p>
<p>Sedangkan ekstrem kanan sangat meyakini dan mengimani bukan hanya kejadian alam raya ini tapi semua kejadian (bahkan setiap helai daun yang jatuh dari pohon pun) adalah atas andil dan izin sang pencipta yakni Tuhan yang maha perkasa. Karena menyakini akan adanya Tuhan mereka masing-masing berusaha mengimajinasikan keberadaan Tuhan baik yang katanya melalui wahyu atau hasil perenungan manusia. Imajinasi itu selalu bebas tidak terikat dengan batasan-batasan yang ada, sedangkan Tuhan adalah puncak imajinasi tersebut. Namun sayangnya masing-masing dari mereka saling memaksakan imajinasi tersebut terhadap pihak lainnya hingga kehidupan dunia ini menjadi jauh dari kedamaian.</p>
<p>Sebagian dari mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak sama dengan apa pun (tidak ada padanannya) namun anehnya mereka selalu berusaha menjadikan Tuhan itu sebagai &#8220;sesuatu&#8221; dengan membuat aturan-aturan yang berhubungan dengan Tuhan (aturan-aturan seperti &#8220;wajib&#8221;; &#8220;tidak wajib&#8221;; &#8220;setengah wajib&#8221; dan lain-lain). Bila kita melaksanakan aturan yang wajib tersebut maka Tuhan akan senang; namun bila sebaliknya maka Tuhan menjadi murka. Dilain pihak manusia diiming-imingi reward &#8220;pahala&#8221; dan ancaman &#8220;dosa&#8221;, dengan hal ini secara tidak sadar Tuhan di-jadikan &#8220;sesuatu&#8221; (karena Tuhan masih butuh senang; marah dan lain-lain) padahal Tuhan itu TIDAK ADA PADANANNYA.</p>
<p>Sama seperti Mas Judhi diakhir pencarian saya pun pernah mengalami keguncangan karena alasan yang sama ternyata Agama dan Tuhan adalah produk budaya manusia, bukan berasal dari alam supranatural yang tak terbayangkan.</p>
<p>Dari sepenggal periode pencarian, saya menemukan sesuatu hal yang menarik yang berasal dari &#8220;kearifan lokal&#8221; warisan dari leluhur kita sendiri. Di Nusantara ini dahulu dikenal yang namanya &#8220;Agama Budhi&#8221; (tidak sama dengan Budha atau Hindu karena sudah ada lebih dulu ribuan tahun sebelumnya) walau sebenarnya tidak pernah meng-klaim sebagai sebuah ajaran agama, karena isinya &#8220;hanyalah&#8221; nasihat-nasihat sebagai petunjuk hidup yang tidak pernah ada iming-iming tentang &#8220;reward&#8221; dan &#8220;ancaman&#8221;. Jadi sebenarnya memang bukan sebuah agama karena itu leluhur kita dituduh sebagai &#8220;animisme&#8221;; &#8220;dinamisme&#8221; atau apalah sebutan lainnya oleh orang-orang yang merasa sudah paham betul tentang Tuhan melalui agama mereka. Para leluhur kita dituduh sebagai orang-orang yang tidak kenal agama dan tidak punya Tuhan. Padahal leluhur kita bukan tidak punya Tuhan tapi ternyata malah leluhur kita yang jauh lebih paham bahwa Tuhan itu TIDAK ADA PADANANNYA, Tuhan itu tidak bisa digambarkan dan tidak bisa diceritakan, selebih dari itu ternyata kita semua SALAH PAHAM terhadap leluhur kita sendiri.</p>
<p>Maksudnya salah paham yang bagaimana? Maaf saya hanya bisa katakan kenalilah budaya kita sendiri, bukan berarti kita harus tinggalkan semua agama-agama import tersebut dan kembali ke agama leluhur, bukan itu. Karena toh Agama dan Tuhan itu ternyata adalah produk budaya manusia. Kita belum banyak mengenal budaya kita sendiri bahkan kita menganggap budaya kita sendiri sebagai budaya animisme,sungguh tragis!</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: riand		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2675</link>

		<dc:creator><![CDATA[riand]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2015 17:05:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2675</guid>

					<description><![CDATA[kalo berdasarkan hadis kata rasulullah agama itu adalah nasehat :)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kalo berdasarkan hadis kata rasulullah agama itu adalah nasehat 🙂</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2674</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2015 03:42:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2674</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2673&quot;&gt;kalangkangtinggal&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Kalangkangtinggal:&lt;/b&gt; he he...  anda bicara fungsi agama yang biasa dimanfaatkan penguasa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2673">kalangkangtinggal</a>.</p>
<p><b>@Kalangkangtinggal:</b> he he&#8230;  anda bicara fungsi agama yang biasa dimanfaatkan penguasa &#8230;</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: kalangkangtinggal		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2673</link>

		<dc:creator><![CDATA[kalangkangtinggal]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2015 23:12:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2673</guid>

					<description><![CDATA[kalo Agama disuruh masuk barak, gagal tujuan untuk mendisplinkan kelompok agar bisa tetap siap siaga berkumpul bersama lima waktu untuk siap tempur, perbanyak kelompok dengan beranak pinak istri empat, tambah dengan hamba sahaya jadi makin banyak. Turuti perintah pemimpin dan bersiap-siap dengan mengorbankan jiwa dan harta toh ada imbalannya yang dahyst kelak. Jiga darurat apaun cara bisa dilakukan, makan, minum menipu dsbnya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kalo Agama disuruh masuk barak, gagal tujuan untuk mendisplinkan kelompok agar bisa tetap siap siaga berkumpul bersama lima waktu untuk siap tempur, perbanyak kelompok dengan beranak pinak istri empat, tambah dengan hamba sahaya jadi makin banyak. Turuti perintah pemimpin dan bersiap-siap dengan mengorbankan jiwa dan harta toh ada imbalannya yang dahyst kelak. Jiga darurat apaun cara bisa dilakukan, makan, minum menipu dsbnya</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Judhianto		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2672</link>

		<dc:creator><![CDATA[Judhianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2015 02:12:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2672</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai balasan untuk &lt;a href=&quot;https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2671&quot;&gt;nonong batuke&lt;/a&gt;.

&lt;b&gt;@Nonong Batuke:&lt;/b&gt; memang saat ini agama di negara kita sudah menjelma menjadi sesuatu yang menyebalkan. Agama dianggap mengetahui segalanya lalu sok tahu mengatur-atur politik, hukum, sains, moral, cara berperilaku orang lain bahkan untuk menindas dan membunuh orang lain yang tak sejalan.

Masalahnya cuma satu, yaitu membawa agama ke luar kandangnya yaitu sekedar ritual pribadi. 
Kalau sekedar ngrapal Qur&#039;an siang malam untuk diri sendiri dan tak memaksa orang lain mendengarkan atau ikut membacanya, ya gak masalah, itu mungkin menenangkan bagi yang bersangkutan.
Kalau sekedar sholat siang malam tanpa henti untuk dirinya sendiri dan tak memaksa orang lain ikut sholat sebagaimana dirinya, ya gak masalah, itu memang bikin hatinya tenang (dan mungkin batuke jadi hitam, bukan nonong).

Jika ada istilah &quot;Kembalikan tentara ke barak&quot;, maka mungkin perlu dipopulerkan &quot;Kembalikan agama ke tempat ibadah&quot;. Kalau mulai mengatur-atur di luar perkara ritual pribadi, ya harus ada yang protes.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai balasan untuk <a href="https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2671">nonong batuke</a>.</p>
<p><b>@Nonong Batuke:</b> memang saat ini agama di negara kita sudah menjelma menjadi sesuatu yang menyebalkan. Agama dianggap mengetahui segalanya lalu sok tahu mengatur-atur politik, hukum, sains, moral, cara berperilaku orang lain bahkan untuk menindas dan membunuh orang lain yang tak sejalan.</p>
<p>Masalahnya cuma satu, yaitu membawa agama ke luar kandangnya yaitu sekedar ritual pribadi.<br />
Kalau sekedar ngrapal Qur&#8217;an siang malam untuk diri sendiri dan tak memaksa orang lain mendengarkan atau ikut membacanya, ya gak masalah, itu mungkin menenangkan bagi yang bersangkutan.<br />
Kalau sekedar sholat siang malam tanpa henti untuk dirinya sendiri dan tak memaksa orang lain ikut sholat sebagaimana dirinya, ya gak masalah, itu memang bikin hatinya tenang (dan mungkin batuke jadi hitam, bukan nonong).</p>
<p>Jika ada istilah &#8220;Kembalikan tentara ke barak&#8221;, maka mungkin perlu dipopulerkan &#8220;Kembalikan agama ke tempat ibadah&#8221;. Kalau mulai mengatur-atur di luar perkara ritual pribadi, ya harus ada yang protes.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: nonong batuke		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2671</link>

		<dc:creator><![CDATA[nonong batuke]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2015 20:29:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2671</guid>

					<description><![CDATA[Agama selama ini palah bikin repot, jadi dasar konflik disemua urusan. Mau berbuat baik kalau apdasarnya agama jadi palah runyam, mau nikah beda agama konflik, mau sedekah kebeda agama masakah, mau mendo&#039;a kan beda agama katanya gakmditerima,, mau mendirikan rempat  ibadah jadi konflik, mau memimpin masyarakat agamanya beda jadi konflik, kita gak jalankan ritual agama jadi konflik gunjingan dilingkungan. Kalau oada kahirnya menyebabkan keteganganngapain di ajarkan terus menerus. Mendingan buat agama yang lebih produktif  dari pada melakukan ritual2 terus menerus. Bukankah kita bekerja dan berusaha sudah merupakan  ibadah, membantu orang merawat keluarga juga merupakan ibadah dan kegiatan sehari2 kita sudah melakukan ibadah dan bersyukur kepadanya karena telah memanfaatkan segala sesuatu yang diberikan oleh Nya kepada kita, tangan kaki, otak dan lain2]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agama selama ini palah bikin repot, jadi dasar konflik disemua urusan. Mau berbuat baik kalau apdasarnya agama jadi palah runyam, mau nikah beda agama konflik, mau sedekah kebeda agama masakah, mau mendo&#8217;a kan beda agama katanya gakmditerima,, mau mendirikan rempat  ibadah jadi konflik, mau memimpin masyarakat agamanya beda jadi konflik, kita gak jalankan ritual agama jadi konflik gunjingan dilingkungan. Kalau oada kahirnya menyebabkan keteganganngapain di ajarkan terus menerus. Mendingan buat agama yang lebih produktif  dari pada melakukan ritual2 terus menerus. Bukankah kita bekerja dan berusaha sudah merupakan  ibadah, membantu orang merawat keluarga juga merupakan ibadah dan kegiatan sehari2 kita sudah melakukan ibadah dan bersyukur kepadanya karena telah memanfaatkan segala sesuatu yang diberikan oleh Nya kepada kita, tangan kaki, otak dan lain2</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: nonong batuke		</title>
		<link>https://judhianto.com/filsafat/agama-maknanya-apa/comment-page-1/#comment-2670</link>

		<dc:creator><![CDATA[nonong batuke]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2015 20:13:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nontondunia.com/2011/08/09/agama-maknanya-apa/#comment-2670</guid>

					<description><![CDATA[Jadi ingat slogannya yusuf mansyur yang di pasang di sudut kampung saya &quot;yogya menghafal al&#039;quran&quot;. Bergambar dirinya dan orang2 timur tengah. Lawong anak2 kita aja  Ho No Co Ro Ko  merasa jadi beban disekolah eh palah mengiklankan bahasa orang lain. Bahkan ada statmen, semua bahasa pada akhirnya akan hilang kecuali satu, bahasa arab. nah ini palah semakin menyesatkan masyarakat, emang tuhan berbahasa arab dan hanya menerima bahasa arab. Memang ini sebuah fenomena bangsa kita, bila mebaca dan membunyikan suara2 al&#039;quran merasa tenang dan dekat dengan Nya. Ah itu hanyalah persaan saja sesungguhnya. Karena dari kecil kita selalu dikenalkan tuhan dengan menggunakan bahasa arab atau al&#039;quran.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ingat slogannya yusuf mansyur yang di pasang di sudut kampung saya &#8220;yogya menghafal al&#8217;quran&#8221;. Bergambar dirinya dan orang2 timur tengah. Lawong anak2 kita aja  Ho No Co Ro Ko  merasa jadi beban disekolah eh palah mengiklankan bahasa orang lain. Bahkan ada statmen, semua bahasa pada akhirnya akan hilang kecuali satu, bahasa arab. nah ini palah semakin menyesatkan masyarakat, emang tuhan berbahasa arab dan hanya menerima bahasa arab. Memang ini sebuah fenomena bangsa kita, bila mebaca dan membunyikan suara2 al&#8217;quran merasa tenang dan dekat dengan Nya. Ah itu hanyalah persaan saja sesungguhnya. Karena dari kecil kita selalu dikenalkan tuhan dengan menggunakan bahasa arab atau al&#8217;quran.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
