Adakah peradaban yang tidak mengenal tokoh sakti? sepertinya tidak ada. Pahlawan yang sakti hampir ada di semua peradaban manusia.
Di Jawa, ada Joko Tingkir yang punya Aji Lembu Sekilan guna melontarkan semua serangan sebelum menyentuh kulitnya, atau pukulan Ror-Rog Asem yang kekuatannya bisa merontokkan pohon asem raksasa. Ada juga Sunan Kalijaga yang mampu berjalan di atas air dan mengubah rumput menjadi emas.

Di Inggris ada Raja Arthur yang memiliki pedang sakti Excalibur. Dengan menyandang pedangnya Raja Arthur, menjadi sosok yang tak bisa dilukai oleh lawannya, kekuatan pedangnya juga di luar nalar. Baja batu atau apapun dapat dibelah dengan ketajaman pedang Excalibur.
Di kisah agama juga ada Ibrahim yang tidak mati dibakar, Musa membelah Laut Merah, Yesus berjalan di atas air, serta Muhammad yang terbang mengendarai Buroq.
Di mitologi yang lebih kuno ada Achilles, Samson, Hercules, Sun Go Kong, Gatut Kaca, Bima, dan banyak lagi tokoh sakti mandraguna yang mampu menaklukkan musuh-musuhnya dnegan kesaktiannya.
Kesaktian itu apa saja?
Jika berbagai kisah dari berbagai peradaban dikumpulkan, kesaktian sebenarnya dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bentuk.
Kebal Senjata
Salah satu kesaktian yang paling umum adalah kekebalan terhadap senjata ataupun ancaman fisik. Raja Arthur menjadi kebal saat menyandang pedang saktinya, Achilles kebal senjata, Joko Tingkir punya aji Lembu Sekilan yang mementalkan semua serangan, Gatut Kaca kulitnya tidak bisa dilukai oleh senjata apapun.
Dengan kekebalannya para pahlawan ini menjadi tak terkalahkan di medan pertempuran, walaupun umumnya ada titik lemah yang bisa digunakan untuk menjelaskan saat sang pahlawan kalah.
Kemampuan Di Luar Nalar
Para pendekar Cina biasanya digambarkan menguasai secara sempurna ilmu meringankan tubuh, sehingga mampu berlari secepat kuda berlompatan di atas atap-atap rumah dan bahkan di atas permukaan air. Gatutkaca karena kuatnya. digambarkan berotot kawat dan bertulang besi. Samson dengan kekuatannya mampu merobohkan tiang gedung.
Dengan kemampuan di luar nalar ini, membuat para pahlawan berbeda dengan menausia biasa. Ia lebih unggul dari manusia kebanyakan.
Senjata Sakti atau Jimat
Raja Arthur punya pedang Excalibur, Thor punya palu Mjölnir, Ken arok punya keris buatan Empu Gandring, Gatutkaca punya Kotang Antakusuma, Panembahan Senopati punya Tombak Kyai Pleret.
Senjata sakti atau jimat ini melengkapi keperkasaan yang luar biasa dari para pahlawan. Membuat kemampuan mereka semakin jauh di atas kebanyakan manusia.

Darimana Kesaktian Itu?
Walaupun bentuknya beragam, sumber kesaktian dalam cerita manusia ternyata mempunyai beberapa pola yang berulang.
Kesaktian Dari Makhluk Ghaib
Gatutkaca menjadi sakti karena dicelup di kawah Candradimuka, Achilles kebal karena dicelup ke sungai Styx, Yesus bisa berjalan di atas air karena kuasa Tuhan.
Dalam konteks ini, para pahlawan sakti bukan dari dirinya, melainkan pemberian dari kekuasaan yang lebih tinggi, entah itu para Dewa atau Tuhan.
Kesaktian Dari Pusaka atau Jimat
Di Keraton Jawa banyak tersimpan pusaka-pusaka yang dianggap sebagai pembawa pulung keraton, pemegangnya akan mendapatkan legitimasi dari alam ghaib untuk menjadi raja. Ada panji Kyai Tunggul Wulung, Keris Kanjeng Kyai Sangkelat, Tombak Kanjeng Kyai Pleret dan banyak lagi.
Di Inggris pedang Excalibur menjadi sumber legitimasi Raja Arthur untuk menjadi Raja di Inggris.
Dalam konteks ini, kesaktian melekat pada suatu pusaka, sehingga sangat penting untuk mempertahankan pusaka ini agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Kesaktian Dari Latihan, Khas Peradaban Timur
Ini hanya ada di peradaban Timur. Bahwa seseorang bisa sakti tidak hanya dari anugerah makhluk ghaib atau kekuatan pusaka yang sakti, orang bisa sakti karena menjalankan latihan, atau ritual tertentu. Dengan jalan ini, sakti bukan hanya anugerah, melainkan bisa dari kerja keras juga.
Di peradaban timur kita mengenal Qi, Prana atau Tenaga Dalam yang bisa diperoleh seseorang dengan berguru ke orang sakti, mempelajari kitab sakti atau melakukan ritual atau latihan khusus yang berat.
Hal ini dapat ditunjukkan dengan demonstrasi kemampuan para biksu Shaolin, atau para pendekar pencak silat.
Mengapa Butuh Sakti?
Personifikasi Harapan Manusia
Kebanyakan kesaktian melekat pada kisah-kisah para pahlawan atau tokoh besar yang penting di masa lalu. Para pahlawan dan tokoh besar itu dikenang karena melakukan sesuatu yang besar, misalkan merintis suatu kerajaan, menyebarkan agama, memimpin perlawanan terhadap para kafir, atau menang gemilang dalam pertempuran yang besar.
Para pahlawan dalam cerita itu bukan sekadar manusia, ia dikenang oleh banyak orang melewati generasi, sementara kebanyakan orang ceritanya hilang terlupakan. Untuk itu, para pahlawan pasti bukan manusia kebanyakan, mereka manusia unggulan, mereka pasti punya kelebihan.
Dalam cerita dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, kelebihan para pahlawan tersebut diwujudkan menjadi atribut yang jelas, “sakti”, dengan berbagai macam versi kesaktian.
Legitimasi Kekuasaan
Dengan kesaktiannya atau memiliki pusaka sakti, para pahlawan atau pemilik pusaka sakti bisa memperoleh legitimasi dari para pengikutnya.
Rakyat Jawa akan bersedia diperintah oleh Raja di Mataram karena sang Raja memegang berbagai Pulung Keraton yang dulunya dikuasai Raja Majapahit, Sultan Demak, Sultan Pajang dan kini Raja Mataram.
Rakyat Inggris bersedia tunduk kepada Raja Arthur karena hanya dia yang mampu mencabut Pedang Excalibur buatan para peri yang tertancap di batu di halaman Gereja London, ramalan mengatakan hanya raja sejati yang mampu menguasai pedang itu.
Gereja-geraja besar Eropa berebut untuk memiliki relik Yesus, ulama berlomba untuk menjaga sandal atau pedang Nabi Muhammad agar mendapatkan lebih banyak umat yang patuh.
Kesaktian Di Jaman Modern
Apakah kisah kesaktian masih ada di jaman modern? tentu masih. Selama manusia membutuhkan personifikasi manusia ideal, tokoh sakti yang lebih sempurna daripada manusia kebanyakan akan selalu dirindukan.
Tokoh sakti tetap ada, akan tetapi bentuknya saja yang berbeda.
Budaya Barat: Superhero Dalam Film
Di peradaban Barat, sumber kesaktian dalam cerita-cerita berasal dari makhluk supernatural seperti Dewa, Peri, Tuhan atau dari keajaiban benda pusaka. Di masyarakatnya yang sekarang cenderung materialistik, hal supernatural atau keajaiban tidak lagi mendapatkan tempat uang serius. Maka manusia sakti dengan kemampuan di luar nalar sulit diterima sebagai kenyataan hidup.
Sebagai gantinya, mereka tetap memproduksi tokoh-tokoh sakti dalam imajinasi mereka. Salah satu bentuknya adalah para Superhero dalam budaya pop mereka. Sumber kesaktian bisa berasal dari Planet lain seperti Superman, Semesta yang lain seperti Thor, kecelakaan mutasi seperti Spider-man dan Hulk, atau teknologi dan ketrampilan tinggi seperti Batman dan Iron-man.

Budaya Timur: Pendekar Beladiri
Di peradaban Timur, selain dari yang supernatural, mereka mengenal kesaktian yang berasal dari usaha manusia melalui latihan, bertapa atau teknik pernafasan. Karena kesaktian bisa dari usaha manusia, maka kepercayaan tentang kesaktian masih subur di peradaban Timur.
Di Cina ada biara Shaolin serta banyak aliran Kungfu yang mengajarkan berbagai metode untuk “sakti”. Di Indonesia banyak perguruan Silat yang mengajarkan menghimpun tenaga dalam atau apapun istilahnya. Melalui berbagai metode ini, praktisinya berharap mendapatkan daya tahan tubuh, kekuatan dan kecepatan yang luar biasa.

Agamawan: Sumber Restu dan Karomah
Satu lagi yang masih memelihara kepercayaan terhadap kesaktian adalah kelompok agamawan. Istilahnya mungkin Mukjizat, Kuasa Allah, Karomah atau yang lain, namun intinya sama, sesuatu keajaiban luar biasa.
Yang dianggap orang sakti itu bisa jadi Kiai, Habib atau ustad yang diminta doa-doanya bahkan bekas minumnya karena dianggap mujarab. Pusaka atau jimat bisa berupa potongan kain Ka’bah, celupan rambut Nabi atau barang apapun yang sudah didoakan oleh seorang ulama yang pintar.
Dari orang sakti atau jimat itu, mereka berharap mendapatkan kesembuhan ajaib dari penyakit yang mereka derita, bebas dari hutang, terhindar dari bencana, sukses berdagang atau berbagai keinginan lainnya.

Militer: Lupakan Saja Kesaktian atau Keajaiban
Jika kesaktian benar-benar memberikan kemampuan luar biasa pada manusia, tentunya akan memberikan keuntungan besar dalam peperangan, dan seharusnya organisasi militer modern menjadi pihak yang paling berkepentingan untuk mengembangkannya.
Namun organisasi militer merupakan organisasi pragmatis. Sehebat apapun suatu kesaktian, jika tak terbukti berguna di medan perang, maka kesaktian itu sesuatu yang tak berguna.
Tak ada orang kebal yang bisa bertahan menghadapi senapan modern, tapi rompi kevlar dan helm baja terbukti melindungi prajurit dari peluru senapan.
Tak ada orang dengan pukulan sakti yang mampu menghancurkan kendaraan militer musuh, tapi prajurit dengan granat atau bazooka mampuu menghancurkan kendaraan musuh.
Tak ada orang sakti dengan kemampuan pandangan jarak jauh yang bisa mengidentifikasikan pesawat musuh dibalik cakrawala yang datang, namun operator radar bisa dengan cepat menunjukkan letak, kecepatan dan mungkin jenisnya dalam jarak ratusan kilometer.
Tak ada perang yang dimenangkan dengan mengharapkan bantuan makhluk supranatural, maka tentara tidak diberi pelajaran menghapal doa-doa atau ritual mengharapkan bantuan keajaiban dari makhluk ghaib.
Bagi militer, kesaktian dan keajaiban dianggap tak ada dan tak perlu.
Bagaimana Dengan Anda?
Masih berharap sakti dengan latihan tenaga dalam? mengoleksi keris atau jimat sakti yang cocok dengan kebutuhan anda?
Masih mengoleksi beragam ritual atau doa-doa yang bisa cocok untuk mengatasi masalah anda?
Atau sekedar berharap ada superhero baru dengan kesaktian baru, di film Marvel atau DC terbaru?

