AI: Dari Mesin Prediksi Menuju Makhluk Baru

Beberapa tahun lalu, AI hanya dipandang sebagai program yang mampu mengenali gambar, menerjemahkan bahasa, atau menjawab pertanyaan sederhana. Kini kemampuannya berkembang sangat cepat. AI dapat berdiskusi, menulis program, menyusun strategi bisnis, bahkan membantu merancang penelitian.

Jika perkembangan kemampuannya terus berlanjut, bagaimana AI di masa depan?

LLM: Pikiran Mesin

Jantung dari sebagian besar AI modern adalah Large Language Model (LLM).

Banyak orang menganggap LLM sebagai “mesin yang berpikir”. Padahal, secara teknis, LLM adalah mesin prediksi.

LLM dilatih menggunakan kumpulan data dalam jumlah yang sangat besar: buku, artikel, situs web, kode program, percakapan, dan berbagai sumber lainnya. Dari data tersebut, model membangun miliaran parameter yang menangkap pola-pola bahasa manusia.

Ketika kita memberikan sebuah kalimat, LLM menghitung kemungkinan kata atau potongan kata berikutnya yang paling sesuai dengan konteks.

Begitu pula ketika kita mengajukan pertanyaan. Yang dilakukan LLM bukan mencari jawaban di dalam “kamus”, melainkan memprediksi rangkaian kata yang paling mungkin menjadi jawaban terbaik berdasarkan pola yang pernah dipelajarinya.

Prediksi yang dilakukan LLM bukanlah prediksi sederhana seperti fitur pelengkapan otomatis pada keyboard.

Dengan miliaran parameter yang dimiliki, sebuah jawaban dapat terhubung dengan pola-pola yang terkait dengan parameter yang terkait dengannya, dan itu berarti konteks yang panjang, hubungan antar konsep, logika bahasa serta pola yang dipelajari dari miliaran contoh.

Bagi mesin, itu proses prediksi yang menghasilkan prediksi jawaban terbaik. Tapi bagi manusia, hasil yang diberikan oleh AI tidak berbeda dengan hasil pemikiran seorang manusia, hanya saja yang menghasilkan adalah mesin — itu mesin yang berpikir.

Dari Menjawab, Menjadi Membuat Rencana

Dalam beberapa tahun ini, muncul berbagai perusahaan yang bersaing mengembangkan rancangan LLM yang lebih canggih dan efisien, pembuat chip yang bersaing membuat chip pemroses LLM yang lebih kuat, cepat dan efisien.

Peningkatan software dan hardware ini menghasilkan LLM yang lebih canggih, AI tidak lagi hanya menjawab pertanyaan sederhana.

Kini AI mampu:

  • menyusun strategi bisnis,
  • merancang proyek,
  • membuat SOP,
  • merancang arsitektur perangkat lunak,
  • menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah yang kompleks.

Dengan kata lain, AI telah berkembang dari sekadar “menjawab” menjadi “merencanakan”.

Robot: Dari Layar Monitor ke Dunia Nyata

Selama ini, AI hidup di balik layar komputer. Dunia yang dikenalnya hanyalah teks, gambar, suara, atau data digital yang dikirimkan manusia. Interaksinya dengan dunia nyata sangat terbatas, biasanya melalui prompt yang diketik pengguna atau perintah suara yang diberikan operator. Salah satu penyebabnya, adalah LLM yang besar hanya bisa diproses di perangkat sekelas mainframe yang biasanya hanya ada di data center yang besar.

Dalam perkembangan terakhir, LLM sudah mampu diproses dalam perangkat yang lebih ringkas. Maka AI mulai bisa keluar dari data center untuk menuju dunia nyata. AI mulai dilengkapi indra dan penggerak untuk berinteraksi di dunia nyata. Kamera menjadi mata, mikrofon menjadi telinga, sensor gaya menjadi indra peraba, sedangkan roda, kaki, lengan, dan jari menjadi alat untuk bergerak dan memanipulasi lingkungan. Kita mengenalnya dalam bentuk robot.

Dengan tubuh fisik tersebut, AI tidak lagi hanya menghasilkan jawaban. Ia dapat mengamati, bertindak, mengevaluasi hasil tindakannya, lalu menyesuaikan tindakannya berdasarkan kondisi yang berubah. Siklus ini menjadikan robot sebagai agen yang benar-benar berinteraksi dengan dunia nyata.

Di jalan raya mulai diuji robot taksi yang mampu mengemudi tanpa pengemudi manusia. Di berbagai kota telah beroperasi robot pengantar barang yang mengirim makanan atau paket ke pelanggan. Di pabrik-pabrik modern, robot telah menjadi pekerja yang mampu melakukan pengelasan, perakitan, hingga inspeksi kualitas selama dua puluh empat jam tanpa lelah.

Zoox, Robot Taxi yang sudah beroperasi di San Fransisco sejak akhir 2025. Tidak ada setir dan sopir, automatis sepenuhnya di jalan raya, bercampur dengan lalu lintas umum.

Di dunia medis, robot bedah membantu dokter melakukan operasi dengan tingkat presisi yang sangat tinggi. Di medan perang, konflik di Ukraina memperlihatkan semakin besarnya peran robot dan kendaraan tanpa awak, baik di darat, laut, maupun udara. Sementara itu, berbagai perusahaan dan lembaga penelitian berlomba mengembangkan robot humanoid yang mampu berlari, melompat, menjaga keseimbangan, bahkan bertarung dalam kompetisi sebagai ajang demonstrasi kemampuan teknologi.

Mengapa Robot Belum Bisa Menjadi Manusia?

Robot saat ini pada dasarnya masih merupakan spesialis. Mereka sangat unggul dalam satu bidang yang sempit, tetapi di luar bidang tersebut , bisa jadi ia menjadi sangat bebal.

Bayangkan sebuah robot petarung. Ia mungkin mampu melakukan gerakan bela diri yang sangat rumit, melompat, berguling, menendang dengan presisi tinggi, bahkan menjaga keseimbangan dalam berbagai posisi yang sulit. Namun, berikan tugas yang tampaknya sederhana bagi manusia: berbelanja ke pasar untuk membeli bahan-bahan terbaik guna memasak gule kambing.

Robot itu akan menghadapi kesulitan yang sangat besar.

Robot petarung yang menguasai teknik bertarung di atas ring. Jagoan dan bisa mngantisipasi lawan, namun bebal kalau disuruh mengerjakan tugas remeh-harian.

Ia harus mengenali kualitas daging yang baik, memilih santan yang segar, membedakan berbagai jenis rempah, menyesuaikan pembelian dengan anggaran yang tersedia, bernegosiasi dengan pedagang, memahami bahasa sehari-hari yang sering kali ambigu, hingga mengambil keputusan ketika salah satu bahan tidak tersedia. Semua itu merupakan gabungan antara pengetahuan, pengalaman, kemampuan sosial, dan penalaran yang sangat beragam.

Robot masa kini belum mampu melakukan semua itu secara alami.

Mengapa?

Menurut saya, salah satu jawabannya dapat dipelajari dari cara kerja otak manusia.

Bukan Hanya Satu “Otak”

Walaupun sering disebut sebagai satu organ, otak manusia sebenarnya merupakan kumpulan berbagai sistem yang memiliki fungsi berbeda tetapi bekerja secara terpadu.

Beberapa bagian utama otak beserta fungsinya antara lain:

  • Korteks Prefrontal berperan dalam perencanaan, pengambilan keputusan, penalaran, dan pengendalian perilaku.
  • Hipokampus membentuk serta mengelola memori jangka panjang dan pengalaman hidup.
  • Amigdala memproses emosi serta mendeteksi ancaman dan bahaya.
  • Hipotalamus menjaga kebutuhan dasar tubuh seperti lapar, haus, tidur, suhu tubuh, dan berbagai fungsi biologis lainnya.
  • Ganglia Basalis membantu memilih tindakan yang paling sesuai serta membentuk kebiasaan.
  • Serebelum mengendalikan koordinasi dan keseimbangan gerakan.
  • Talamus menjadi pusat distribusi informasi dari berbagai indera menuju bagian otak yang memerlukannya.
  • Batang Otak mengendalikan fungsi-fungsi vital seperti pernapasan, denyut jantung, dan refleks.

Jika dianalogikan dengan AI, masing-masing bagian tersebut dapat dianggap sebagai modul kecerdasan yang memiliki spesialisasi berbeda tetapi terus berkomunikasi satu sama lain. Tidak ada satu bagian otak yang bekerja sendirian.

Bagian-bagian otak manusia, masing-masing bagian bekerja dengan penalarannya sendiri dan berfokus pada tugas khusus yang berbeda. Tiap bagian dari otak manusia, mungkin setara dengan satu LLM. Saat ini robot hanya mendukung satu LLM saja, belum mampu seperti manusia.

Arsitektur seperti ini sangat berbeda dengan kebanyakan robot saat ini, yang umumnya hanya memiliki satu LLM yang berfungsi sebagai otaknya.

Memori Seumur Hidup

Keunggulan lain manusia adalah memori.

Sejak lahir, manusia terus mengumpulkan pengalaman. Pengalaman tersebut membentuk cara berpikir, cara mengambil keputusan, serta kemampuan menghadapi situasi baru.

Menariknya, manusia tidak mengingat semua hal secara sempurna.

Otak secara alami melakukan proses seleksi. Pengalaman yang penting akan diperkuat, sedangkan informasi yang jarang digunakan perlahan memudar. Proses lupa bukanlah kelemahan, melainkan mekanisme yang membuat kapasitas memori tetap efisien dan pengalaman yang benar-benar penting lebih mudah diakses.

Robot saat ini belum memiliki mekanisme seperti itu. Sebagian besar sistem AI belum mampu mengelola memori seumur hidup secara efektif, apalagi menentukan pengalaman mana yang perlu dipertahankan dan mana yang dapat dilupakan.

Mengapa Robot Belum Mampu Mencapai Tahap Itu?

Ada beberapa kendala utama.

Pertama, robot belum mampu menjalankan banyak sistem kecerdasan tingkat tinggi secara bersamaan dalam satu tubuh fisik. Untuk mengelola beberapa model AI sekaligus dibutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar, baik dari sisi prosesor, memori, maupun konsumsi daya.

Kedua, sistem memori AI masih relatif sederhana. Robot belum memiliki memori autobiografis yang terus berkembang sepanjang hidupnya seperti manusia. Selain itu, mekanisme “lupa” yang selektif juga masih menjadi bidang penelitian yang aktif.

Ketiga, koordinasi antarberbagai modul kecerdasan masih jauh dari sempurna. Membuat satu AI yang pandai berdialog sudah merupakan tantangan besar; membuat lima atau sepuluh AI yang memiliki peran berbeda tetapi mampu bekerja harmonis dalam satu robot merupakan tantangan yang jauh lebih kompleks.

Bagaimana Masa Depannya?

Perkembangan perangkat keras kemungkinan akan menjadi salah satu pendorong utama.

Salah satu kandidat teknologi di masa depan adalah komputer kuantum. Komputer kuantum secara prinsip sangat unggul dalam melakukan pemrosesan pararel dibandingkan komputer tradisional. Dalam proses-proses tertentu ia bisa menyelesaikan mulyaran kali lebih cepat dan efisien dibandingkan komputer klasik. Sebagai contoh, Google Sycamore pernah menyelesaikan perhitungan dalam 200 detik yang diperkirakan butuh 10.000 tahun pada superkomputer klasik.

Di sisi lain, teknologi penyimpanan data dan pengelolaan memori juga terus berkembang. Bukan hanya kapasitasnya yang akan bertambah, tetapi juga cara AI mengelola pengalaman. Sangat mungkin robot masa depan akan memiliki mekanisme yang menyerupai proses lupa pada manusia: pengalaman penting dipertahankan, pengalaman yang tidak lagi relevan diringkas atau dihapus, sehingga memori dapat terus berkembang tanpa menjadi penuh.

Jika kedua teknologi tersebut menjadi matang, maka di masa depan, Robot akan mampu menjalankan beberapa otak secara bersamaan dalam satu tubuhnya, mirip dengan manusia dengan beberapa bagian otaknya. Dengan kemampuan mengelola memori sepanjang hidupnya, robot juga akan memiliki suatu “kepribadian” yang ditempa dari pengalamannya seumur hidup.

Dari mesin pengolah informasi, akankah kelak muncul kesadaran seperti manusia?

Menjadi Manusia?

Tidak akan.

Robot tidak akan pernah mendapatkan pengalaman yang didapat dari perkembangan dan pengalaman tubuh biologis sebagaimana manusia. Robot akan mendapatkan pengalaman berbeda sebagai makhluk mekanis yang berinteraksi di dunia yang dialaminya.

Punya Kepribadian?

Tentu, dengan pengalamannya seumur hidup, ia mendapatkan feedback dari pilihan-pilihannya yang mana yang mendapat tanggapan bagus dan menguntungkannya — lalu mengulangnya di kesempatan yang lain, juga mana dari pilihan-pilihannya yang mendapat tanggapan buruk atau merugikannya — lalu menghindarinya di kesempatan lainnya. Itu akan menjadi “kepribadiannya”.

Punya Kesadaran?

Kalau punya kemampuan mempertahankan keberadaannya, beradaptasi dengan lingkungan, merencanakan langkahnya serta mempertahankan semacam “kepribadian” — bukankah itu ciri-ciri suatu kesadaran?

Mungkin manusia harus mulai menyadari, bahwa telah hadir suatu suatu spesies makhluk cerdas baru — spesies humanoid.

Apakah humanoid yang berpotensi lebih cerdas dari manusia akan menjadi ancaman? Itu yang kita belum tahu, kita akan menghadapinya dalam beberapa dekade ke depan.


Bacaan:

Bagikan ini:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top