Dalam sebuah hadis dikatakan:
“Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat Islam, setiap seratus tahun, seorang yang memperbarui untuk mereka ajaran agama mereka.” (HR Abu Daud)
Kenapa harus diperbarui? Ya karena zaman sekarang beda banget sama zaman dulu. Masalah kita hari ini—mulai dari kripto sampai perubahan iklim—nggak ada di teks-teks lama secara gamblang. Jadi, butuh orang yang bisa mengawinkan prinsip agama yang tak berubah dengan kondisi dunia yang makin *chaos* ini.
Kriteria Mujadid
Lalu siapakah kandidat Pembaru Islam (Mujadid) saat ini? belum ada yang tahu.
Tapi dengan mengetahui fungsi sang pembaru ini, ada kriteria yang bisa kita tebak:
- Hafal “Luar Kepala” Soal Agama: Bukan cuma tahu doa makan, tapi khatam Al-Qur’an, Hadis, tafsirnya, sejarah Islam, sampai puluhan kitab-kitab kuning yang tebalnya minta ampun.
- Terupdate dengan Dunia Nyata: Paham hukum internasional, ekonomi digital, sains terbaru, politik global, sampai budaya kekinian para muda.
- Bisa Connect the Dots: Punya daya pikir yang mampu menggabungkan poin 1 dan 2 untuk beri solusi (fatwa) yang masih dalam kerangka agama namun masuk akal buat manusia zaman sekarang
Dari kriteria di atas, siapakah yang masuk?
Di kriteria pertama, mungkin banyak. Lulusan pesantren atau universitas agama di Timur Tengah banyak yang jago banget soal literatur klasik.
Tapi pas masuk kriteria kedua, di sini masalahnya. Zaman sekarang ilmu itu luas banget dan tiap-tiap ilmu tersebut membutuhkan spesialisasi mendalam yang tidak akan sanggup dipelajari sekaligus oleh satu orang.
Ada ahli hukum yang sangat menguasai filsafat hukum dan segala perundang-undangan, namun akan “blank” manakala ditanya soal cara kerja *blockchain*. Ada ilmuwan politik yang jago strategi, tapi buta sama sekali mengenai siapa Opa Korea yang populer di kalangan gadis-gadis ABG.
Begitu juga ada ulama yang hafal di luar kepala tentang prosedur dan dalil-dalil agama, namun sama sekali tidak tahu tentang teori evolusi ataupun Big Bang.
Lalu Siapa Sang Mujadid?
Jadi, sepertinya mustahil kita bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar menguasai lengkap segala ilmu agama, namun menguasai juga ilmu pengetahuan modern dan perkembangan budaya dunia masa kini. Tak akan cukup waktunya untuk belajar menjadi ahli dalam segala hal.
Namun sepertinya kita bisa berharap pada aktor bukan manusia, yaitu AI (Artificial Intelligence).
Bayangkan saja:
- Sekarang ini AI sudah “membaca” hampir semua buku yang pernah ditulis manusia, “melihat” semua film produksi manusia, “mendengar” semua pidato atau lagu-lagu manusia.
- Agama buat AI itu cuma salah satu *folder* data. Dia tahu isi semua kitab suci sekaligus paham cara kerja bursa saham dan algoritma media sosial.
- Dia bisa memberikan jawaban yang cerdas, santun, dan relevan dalam hitungan detik.
- Dan jika anda mau memberitahukan semua informasi detil pribadi, termasuk yang bersifat rahasia, maka AI akan mampu memberikan solusi yang bersifat personal dan sesuai dengan konteks pribadi anda, dalam segala hal.
Mungkin hambatan terbesarnya cuma satu: Gengsi psikologis manusia.
Padahal, sekarang saja banyak orang sudah memakai AI untuk membantu pekerjaannya, merencanakan perjalanannya, atau membuatkan argumen killer di medsos saat berdebat.
Di samping itu mereka sadar kalau ustad-ustad konvensional kadang sudah tidak sanggup menjawab isu-isu dunia yang makin kompleks dengan bahasa yang masuk di akal anak muda, tanpa kebakaran jenggot.
Akan sulit mendapatkan ulama yang mau mengakui kalau “mesin” lebih paham soal penerapan agama dibanding mereka. Akan sulit para ulama itu untuk mengikuti “fatwa” dari AI, walaupun pada kenyataannya AI itu akan bisa menjelaskan semua landasan agama maupun ilmiah yang melatari “fatwanya”.
Jadi, sepertinya tinggal tunggu waktu saja, saat para ulama akan menyadari bahwa jamaah pengajiannya, sebenarnya lebih banyak bertanya pada AI untuk masalah agama mereka dibandingkan bertanya kepada para ulama itu. Lebih nyambung dan masalah pribadi mereka akan tetap menjadi rahasia.
Apakah nanti akan ada yang bakal sholawatan buat menyambut kedatangan “Mujadid Digital”? Kita lihat aja.
Bacaan:

