Dua Hari Raya Islam, Dua Perayaan Pengorbanan

Dua hari raya? maksudnya Idul FItri dan Idul Adha?
Kan hanya Idul Adha yang disebut hari raya kurban?

Ya, memang hanya Idul Adha yang disebut hari raya kurban, namun dengan melihat dari sudut pandang yang lain, kedua hari raya itu merayakan persembahan pengorbanan dari manusia untuk Allah.

Bagaimana bisa?

Idul Fitri. Korbankan Dirimu.

Idul Fitri adalah perayaan setelah berakhirnya ritual panjang selama bulan Ramadhan. Ritual itu berupa menolak makan, minum dan berhubungan seks di siang hari, dan menjelang akhir bulan ritual itu, umat Islam diwajibkan membayar zakat.

Itu yang pokok, yang berikutnya walaupun sifatnya tidak wajib, umat Islam diarahkan untuk mengisi waktu malam mereka dengan memuja-muji Allah, melalui rangkaian sholat Tarawih, ada yang 11 rakaat, ada yang 24 rakaat, tergantung aliran yang dipilih. Jika masih kurang, mereka juga diiming-imingi pahala yang berlipat-lipat untuk shalat Tahajut, membaca Qur’an dan berzikir.

Para pendakwah mengatakan itu adalah ujian mengalahkan Hawa Nafsu.

Namun, dengan kacamata lain, rangkaian ritual itu dapat diartikan bahwa Allah sedang meminta pembuktian kepatuhan umatnya.

Makan dan minum, adalah kebutuhan dasar hidup manusia. Berhubungan seks dan kebebasan menggunakan waktu adalah bagaimana manusia memanfaatkan waktu dan mencari kesenangan.

Di ritual bulan Ramadhan, Allah meminta manusia untuk abaikan kebutuhan dasar hidupmu, abaikan kesenanganmu, berikan waktu malammu, berikan waktu luangmu, isi dengan memuja-muji Allah. Abaikan lapar dan hausmu, abaikan kesenanganmu, abaikan istirahatmu, abaikan berpikir untuk dirimu sendiri, abaikan penurunan produktivitasmu, karena jika Allah menginginkan, berikan semua yang diinginkan dari dirimu. Korbankan kepentinganmu, korbankan dirimu.

Ya! Idul Fitri adalah perayaan tentang persembahan korban (diri sendiri) kepada Allah.

Umat Islam beritikaf di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (30/5/2019) dini hari. 

Idul Adha. Korbankan Orang Lain.

Idul Adha adalah perayaan tentang kepatuhan Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail, anaknya sendiri.

Menyembelih adalah membunuh. Allah memerintahkan Ibrahim membunuh anaknya sendiri.

Allah memerintahkan bukan lewat saluran dengan derajat tinggi.
Allah tidak memanggil Ibrahim bertemu. Allah tidak mengatakannya lewat wahyu, sebagaimana saat Musa menerima wahyu di depan semak terbakar di Gunung Sinai. Allah tidak menyampaikannya lewat malaikat, sebagaimana saat Jibril menemui Muhammad di Gua Hira. Ibrahim mendapatkan mimpi menyembelih Ismail, lalu ia menafsirkannya sebagai perintah Allah untuk membunuh Ismail, itu saja.

Tidak ada alasan untuk membunuh Ismail. Ismail anak yang baik dan patuh, dia tidak melakukan kesalahan. Allah memerintahkan Ibrahim membunuh anaknya, bagi Ibrahim, itu sudah cukup. Tak perlu menanyakan alasannya, tak perlu membela anaknya, tak perlu berargumen.

Ketika Iblis mencoba memmbuat Ibrahim menolak perintah itu, Ibrahim marah dan melempari Iblis dengan batu. Iblis membujuk Ibrahim untuk menanyakan ulang perintah itu pada Allah, menanyakan alasannya, dan mengajak Ibrahim untuk membela anaknya, seseorang yang dalam perlindungannya.

Tak ada yang salah dari bujukan Iblis, tak ada unsur kejahatan terhadap kemanusiaan, tak ada unsur pelanggaran prinsip kebenaran. Iblis saat itu mungkin lebih merupakan representasi nalar dan akal sehat.

Tapi Ibrahim menolak. Baginya, jika perintah Allah sudah turun, tak ada pilihan lain, “Patuhi!”. Jikapun harus mengorbankan orang lain, “Korbankan orang lain!”. Alasan?, “Tak perlu alasan untuk Allah!”. Hak hidup orang lain? “Abaikan!”. Ibrahim mengusir Iblis, melempari dengan batu. Ibrahim mengusir nalar dan akal sehat manakala perintah Allah datang.

Ibrahim bersiap membunuh Ismail, anaknya, untuk persembahan kepada allah.

Walaupun di detik terakhir Allah mengutus malaikatnya untuk menggantikan Ismail dengan seekor domba, Allah melihat kesungguhan Ibrahim untuk membunuh Ismail. Allah melihat Ibrahim sanggup mengorbankan siapa saja, bahkan anak kandungnya sendiri demi perintah Allah.

Ya! Idul Adha adalah perayaan tentang persembahan korban (orang lain) kepada Allah.

Persembahan Korban untuk Allah. Siapkah?

Jadi, dua hari raya yang dirayakan seluruh umat Islam pada dasarnya, adalah perayakan tentang dua macam persembahan korban terbaik dari manusia untuk Allah. Yaitu mengorbankan diri sendiri untuk Allah (Idulu Fitri) dan mengorbankan orang lain untuk Allah (Idul Adha).

Selain sebagai sekedar perayaan, siapkah melakukannya dalam arti sepenuhnya?

Sajida Mubarek Atrous al-Rishawi memperlihatkan rompi bom yang dipakainya. Dia digagalkan meledakkan diri di hotel di kota Amman, Yordania tahun 2005. Demi keyakinannya, dia sudah siap mempersembahkan korban terbaik bagi Allah, dirinya sendiri dan orang lain, sayang digagalkan.

Bacaan:

Bagikan ini:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top